abang-abang
hanya sebuah cerita?

Andrea Hirata: Sang Pemimpi yang Susah Jatuh Cinta

Kesuksesan novel tetralogi Laskar Pelangi membuat seorang Andrea Hirata menjadi super sibuk. Berbagai kegiatan yang dulu sama sekali tidak pernah diimpikannya seolah seperti air bah yang datang menerjang.

Dari diskusi buku, beda buku, wawancara, talkshow di stasiun televisi sampai dengan seminar di berbagai kota di Indonesia menjadi jadwal sehari-hari Andrea. Ditambah pekerjaan tetapnya sebagai staf analis PT Telkom Bandung.

Pertengahan tahun ini novel pertamanya, Laskar Pelangi akan diangkat ke layar lebar. Buku terakhir dari tetraloginya -Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor- Maryamah Karpov tinggal terbit setelah film Laskar Pelangi rilis di bioskop.

Selain bestseller di negeri sendiri, ternyata novel ini juga menjadi bestseller di Malaysia. Novel ini juga akan diterjemahkan dan akan terbit di AS dan Eropa.

Yang lebih membanggakan, novel Edensor masuk dalam lima besar di malam nominasi KLA (Khatulistiwa Literature Award) yang akan dilaksanakan di Plasa Senayan pada 18 Januari nanti.

Saat novelnya menjadi bestseller dengan jumlah cetakan hampir 200 ribu eksemplar, tentu saja Andrea banyak sekali mendapatkan keuntungan. Salah satunya adalah banyaknya penggemar. Bahkan dari skala 100 persen, ternyata 90 persen penggemarnya adalah perempuan.

Menariknya, meski lebih dari setengah penggemarnya adalah kaum hawa, Andrea yang merahasiakan umurnya ini mengaku belum bisa menemukan cinta sejatinya.

Saat ditemui di kantornya Telkom Training Center, Geger Kalong, Bandung, beberapa waktu lalu, Andrea mengungkapkan sekelumit kisah cintanya. “Kapan-kapan kita ngobrol soal cinta ini secara panjang lebar,” janji Andrea.

Untuk sebagian orang, cinta adalah menyenangkan. Bagi anak kelima dari enam bersaudara pasangan Seman Said Harun dan NA Masturah Seman ini, cinta adalah sangat menyusahkan. Begitu ia memandang sebuah cinta.

“Saya kira, saya itu tipe yang nggak gampang suka sama orang. Tapi kalau udah suka akan gila. Bisa sakit jiwa. Nggak bisa tidur, nggak bisa apa-apa. Jadi saya sangat berhati-hati,” ungkap Andrea.

Oleh karena itulah, sejak cinta monyetnya bersemi untuk pertama kali sampai menjadi novelis terkenal, tidak banyak cinta yang menghampiri diri Andrea yang alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

“Saya sebagai laki-laki itu bisa disebut cukup paceklik. Kalau saya ngobrol dengan teman-teman saya seangkatan, mereka punya mantan paling nggak 16. Saya sebenarnya pacaran sejak SMP juga, tapi wanita dalam hidup saya itu baru dua. Di jaman sekarang ini, saya itu nggak oke banget,” ujarnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Kedua perempuan yang mampu mengisi hatinya itu adalah seorang gadis Tionghoa yang menjadi cinta pertamanya. Dalam novel Laskar Pelangi, gadis itu dinamakan Njoo Xian Ling atau A Ling.

Saking dalamnya, Andrea sampai mencarinya ke berbagai negara dan juga lewat internet. Tempat pacaran favorit mereka adalah komidi putar yang ada di kampungnya.

“Waktu itu, rasanya bahagia sekali. Indah sekali di atas komidi putar. Tapi sampai saat ini saya belum bertemu lagi dan tidak tahu ada di mana,” ucap Andrea.

Sedangkan satunya adalah seorang gadis asal Jerman primadona kelas saat dirinya kuliah S2 di Sorbornne, Perancis. Gadis ini juga disinggungnya dalam novel ketiganya, Edensor. Dalam novel itu, gadis tersebut diberi nama Katya.

“Ya hanya dua itu. Karena dua itu saja sudah membuat saya cukup sakit jiwa. Makanya saya cukup berhati-hati. Nanti kapan-kapan saya ceritakan soal ini,” kata Andrea berahasia.

Masak diantara 90 persen penggemarnya tidak ada yang menarik hati? Mendapatkan pertanyaan ini, Andrea hanya tersenyum kecil. Dengan setengah tertawa, Andrea berkata,“Wah, kalau saya jadi oportunis nih bisa untung besar. Tapi saya pikir, saya sekarang ini masih sibuk. Jadi tidak terlalu memikirkannya.”

Kemudian Andrea malah menceritakan pengalaman menariknya dari tingkah polah penggemar-penggemarnya. “Luar biasa. Saya tidak menganggap saya kaya dan tampan untuk menjadi seorang idola. Tapi pembaca buku itu fanatik,” kata Andrea.

Pengalaman-pengalaman yang kadang membuat dirinya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Dari email atau sms yang isinya rela menjadi istri keduanya, sampai dengan mengiriminya lingeri.

“Saya pernah dikirimi lingeri oleh pembaca saya tujuh kali. Saya nggak ngerti maunya apa. Itu semua terjadi karena sebenarnya mereka mencintai buku. Bukan penulisnya,” terang Andrea.

Kenapa bukan penulisnya? “Suatu ketika saya diskusi di Sastra Universitas Indonesia. Suasananya ramai, rebutan nanya, waktunya udah habis. Seorang wanita nekad ingin bertanya. Katanya kalau nggak diberi kesempatan akan marah. Cantik sih. Ternyata ia protes dan kecewa karena wajah saya tidak secakep foto yang ada di novel. Saya bilang gimana ya ini pertanyaan sulit,” cerita Andrea sambil tertawa-tawa panjang.

Manusia Amfibi

Hari bertambah sore. Dari jendela kaca kantor Andrea yang terletak di lantai dua, cuaca terlihat mendung. Secangkir teh manis hangat yang menjadi teman mengobrol pun tinggal setengah.

Sambil membetulkan letak duduknya, Andrea masih semangat bercerita. Wajahnya terlihat lelah karena habis pulang dari Belitung. Obrolan berlanjut ke seputar pekerjaan.

“Saya lihat teman-teman penulis itu total dalam menulis. Bahkan meninggalkan profesinya. Saya pikir saya bekerja di sini dan saya menyukai pekerjaan ini,” ujar Andrea dengan mimik serius.

Maksudnya? “Saya menyukai pekerjaan sebagai penulis dan saya juga menyukai pekerjaan sebagai pegawai Telkom. Jadi saya seperti manusia amfibi. Berada di dua alam,” ungkap Andrea.

Ya, Andrea adalah manusia amfibi, begitu ia mengumpamakan dirinya. Setiap hari dari jam 08.00 sampai 17.00 WIB, Andrea sibuk dengan pekerjaan utamanya.

“Pagi sampai sore, otak kiri yang dipakai. Baju formal, rapi dan pakai dasi. Rambut sisiran dan klimis. Semuanya serba sistematis dan prosedural. Itu saya kalau pagi sampai sore,” jelas Andrea.

Layaknya drakula, selepas jam kantor, Andrea berubah bentuk. Darah senimannya menemukan wujudnya. “Di atas jam 17.00 WIB sampai malam, hidup saya sangat tidak teratur. Sangat imaginatif. Sangat berubah-ubah. Tapi saya pikir saya menyukai itu. Hidup pun jadi penuh colourful. Jadi seimbang,” terang Andrea.

Keasyikkan Andrea sebagai manusia amfibi membuat dirinya untuk memutuskan bahwa dua dunia ini tidak akan ditinggalkannya. Ia akan terus hidup di dalamnya.

“Saya pikir saya tidak akan memilih untuk keluar dari lingkungan ini. Malah saya ingin dua dunia ini menjadi satu. Tempat di mana saya bekerja juga memberikan keleluasaan bagi saya,” kata Andrea.

Namun, selama menjadi penulis, Andrea tidak mau terjebak dalam stigma narsisme. “Narsis itu adalah penyakitnya penulis. Aduh susah banget dikritik. Seneng banget memuji diri sendiri. Pengen pinternya sendiri. Tapi nggak mengikuti perkembangan jaman. Saya nggak mau menjadi penulis yang begitu. Asyik di dalam dunianya sendiri,” ujar Andrea.

“Saya ingi menjadi penulis yang memiliki kapasitas memadai untuk membuat analisis lebih dari sekedar cerita sastra. Lebih dari sekedar imajinasi. Nggak jaman lagi deh. Menghargai kecerdasan pembaca. Jangan sekali-kali berasumsi pembaca itu bodoh,” terang Andrea sambil meminum teh manis hangatnya.

Difilmkan

Teh manis itu akhirnya tandas dari cangkirnya. Langit yang mendung belum menurunkan air hujannya. Komplek Telkom Training Center semakin sepi. Dan obrolan semakin seru-serunya.

Apalagi yang diobrolkan adalah akan diangkatnya novel Laskar Pelangi ke layar lebar. Ini adalah kesempatan dan sebuah peristiwa yang juag tidak disangka-sangka Andrea.

“Ketika Laskar Pelangi dicetak ulang dalam tiga minggu. Saya banyak diekspos media. Saya mulai dihubungi beberapa orang yang ingin mengangkat cerita ini dalam konteks yang lebih luas yaitu film,” jelas Andrea.

Bukan Andrea kalau tidak pemilih. Dari sekian banyak produser yang menawarinya. Bahkan dengan menyebut angka-angka yang lumayan besar.

“Saya banyak dihubungi produser dan sutradara yang menawar dengan angka-angka yang fantastik. Ada yang Rp 1 M. Saya dibawa ke lokasi syuting dan melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Terus saya memutuskan untuk nggak jadi teken kontrak,” ungkap Andrea.

Lho kenapa tidak jadi? “Saya pikir Laskar Pelangi adalah sebuah memoar. Sebuah buku yang putih menurut saya. Saya sangat memilih sutradara, produser, scriptwriter yang terlibat dalam proyek ini. Saya menolak lama sekali tawaran untuk film Laskar Pelangi,” jelasnya.

Setelah tiga bulan akhirnya Andrea bertemu dengan Riri Reza. “Kayaknya kita ada chemistry. Kayaknya dia ada sixsense, indra keenam dalam melihat naskah. Tidak seperti orang lain melihatnya. Jadi saya pikir salah sekali kalau membuat film Laskar Pelangi itu sebagai film anak-anak,” katanya.

Ide Riri Reza untuk mengangkat sosio kultural yang bergolak di Belitong karena kehadiran PN Timah membuat Andrea memutuskan untuk menerima tawaran Mira Lesmana.

“Sebuah cerita yang substansinya itu bukan anak-anak. Nah, disitulah saya tertarik dengan Riri Reza. Saya juga melihat hasil karya dia. Gie itu kan diadaptasi dan kayaknya mereka mempunyai tim-tim yang kuat, ada mbak Mira Lesmana disitu,” jelas Andrea.

Film ini diproduseri Mira Lesmana dari Miles Production dan Avesina dari Mizan Cinema. Sedangkan untuk proses scriptingnya dikerjakan oleh Salman Aristo.

“Kami memaintaince sebuah hubungan kerja yang sehat. Di mana saya nggak banyak terlibat. Tapi saya diajak ngobrol. Saya pikir itu bagus,” terang Andrea.

Menjadi sukses sebagai seorang novelis ternyata bukanlah cita-citanya. Novel Laskar Pelangi sejatinya tidak untuk diterbitkan. Buku ini dibuat sebagai penghormatan atas guru semasa sekolah dasarnya yang bernama Muslimah.

“Itu sebagai hadiah kepada ibu guru saya yang sedang sakit tahun 2005. Ibu guru yang sejak SD begitu gigihnya mengajar di sekolah. Beliau hanya mengandalkan ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri, red). Mengajar dari umur 15 tahun. Saya kecil saya berjanji suatu saat akan menulis buku tentang beliau,” ujar Andrea.

Atas ‘keisengan’ temannya, akhirnya buku yang dikebutnya selama tiga minggu ini sampai ke sebuah penerbit. Oleh karena itu, sampai saat ini, Andrea masih belum percaya bahwa tulisannya tentang masa kecilnya menjadi bestseller.

“Saya sebelumnya belum pernah nulis novel. Saya bukan orang sastra. Saat sudah selesai, saya fotokopi, saya kirim ke beliau. Terus naskah itu dikirim teman saya di kantor ke penerbit. Tiga minggu kemudian saya dapat kabar novel itu bestseller saya nggak ngerti,” ucap Andrea.

“Saya kaget sekali dengan perkembangan terbaru, film, royalti dan jauh melebihi penghasilan saya. Dan saya bangun tidur bingung kok orang menyebut saya penulis sastra. Saya takjub,” kata Andrea.

“Lama saya untuk bisa memahami itu. Orang berbaris untuk meminta tandatangan saya. Nggak pernah terbayangkan oleh saya. Semuanya serba cepat dan baru,” imbuhnya.

Padahal, siapa kira, sebelum menjadi terkenal seperti sekarang ini, Andrea bahkan tidak pernah membayangkan sebagai seorang novelis. Bahkan sebelum membuat novel Laskar Pelangi, Andrea malah mengaku tidak pernah membaca karya sastra.

Satu-satunya buku yang pernah ia baca hanyalah buku yang berjudul If Only They Could Talk karya James Herriot. “Dari saya kecil sampai saya membuat Laskar Pelangi, dua tahun lalu, saya hanya membuku buku tipis itu. Saya nggak pernah membuat cerpen, membaca puisi. Saya adalah pembaca sastra yang buruk,” cerita Andrea.

Namun itu dulu, setelah novel Laskar Pelangi menuai sukses, Andrea menjadi getol membaca berbagai karya sastra. Baik itu terbitan lokal maupun luar.

“Tapi sekarang saya harus baca. Ini sebuah tuntutan. Saya juga belajar apa sih yang membedakan tulisan yang baik. Orang bilang plot, alur, penokohan. Menurut pendapat saya itu anggapan lama. Karena kalau baca buku Einstein’s Dreams karya Alam Lightman itu nyaris kacau semua. Jadi nggak bisa seperti itu,” jelas Andrea.

“Saya sekarang lagi doyan banget sama buku In Cold Blood karya Truman Capote. Ini buku yang luar biasa. Saya sangat suka bagaimana ia menggambarkan sosiologi Holcom, tempat kejadian pembunuhan terjadi. Saya baca 36 kali. Bagian pertama itu. Berulang-ulang. Orisinalitasnya, kejeniusan,” ucap Andrea.

Sekarang ini, masih adakah keinginan lainnya? “Sure. Saat ini saya sedang excited sekali dengan suatu program yang disebut Laskar Pelangi in Action,” ungkap Andrea.

“Jadi royalti dari buku dan film yang jumlahnya Rp 1 M lebih ini, buat kegiatan ini. Laskar Pelangi in Action ini adalah bimbingan intensif gratis untuk anak SMA yang potensial untuk masuk Perguruan Tinggi. Bimbingan untuk bidang Matematika, Kimia, Fisika, Bahasa Inggris dan Biologi,” kata Andrea.

Program Laskar Pelangi in Action ini sudah diperkenalkan di Belitung pada pertengahan Desember tahun lalu. Rencananya, program ini akan dijalankan April nanti seusai siswa-siswa sekolah menengah ujian.

“Saya ingin ide ini dipakai siapapun, tidak perlu membentuk yayasan, LSM, tidak perlu bikin proposal. Kelas itu tidak lama, cukup sebulan. Empat jam sehari. Tapi saya lihat pengaruhnya besar sekali. Bimbingan Belajar itu pengaruhnya luar biasa,” ujar Andrea. ///(dipublikasikan di Tabloid Nyata edisi 1906)

Satu Tanggapan ke “Andrea Hirata: Sang Pemimpi yang Susah Jatuh Cinta”

  1. Semangat hidupnya ikut menyembul-nyembul dalam relung hatiku, menggoyah-goyah nuansa yang biasa (harus) terjadi


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.