abang-abang
hanya sebuah cerita?

Nothing is impossible, if your heart is willing

Kehidupan di Jakarta bergerak dengan cepatnya. Secepat KRL yang membelah pagi dan tak peduli. Banyak orang yang masih mengira hidup di Jakarta itu enak, banyak uang, dan bisa berhasil.

Mereka berlomba-lomba mengadu nasib di kota metropolitan ini. Meski tidak punya keahlian apa-apa. Yang penting hanya nasib dan kebaikan kota ini.

Tapi….Aku bukan mau cerita soal Jakarta. Emang ibukota ini kejam. Itu so pasti. No Fight No Survive. That’s…hukumnya harus. Enak kalau masuk golongan menengah ke atas. Lha kalau masuk golongan di bawahnya atau tidak masuk golongan apa-apa. Itu kan gila. Non sense. Unbelieveble…aku sampai merinding dengan kehidupan mereka ini.

Tapi lagi…kehidupan yang super keras, mungkin malah tanpa kompromi itu ternyata di jalani juga oleh temanku.

Teman yang ketemunya secara tidak sengaja dan hanya singkat tapi meninggalkan kesan yang mendalam.

Bukan kesan asmara…aku terkesan dengan struggle-nya. Survive-nya di atas rimba beton ini. Say…aku harus menyebutmu sebagai Wonder Woman. Kamu hebat soal kehidupan. Aku malah jadi kerdil, berdiri di sampingmu. Aku langsung muak dengan kerja kerasku selama ini, foya-foya, mengeluarkan uang gak jelas. Kehadiranmu dengan cerita dan aku lihat sendiri seperti menampar otak bawah sadarku.

Mon, wake up…kesedihanmu, kegundahgulanamu, penderitaanmu, kesusahanmu, kesakitanmu, bukan apa-apanya dibanding hidup yang ia jalani.

Hidup yang keras. Hidup yang tanpa kompromi. Namun kita harus mengikuti arusnya. Bagaimana cara kita bertahan untuk hari ini bukan untuk minggu, bulan atau tahun ini.

Membayangkan saja, aku nggak sanggup. Apalagi menjalani. Suer. Aku bisa gila.

Tapi…kamu lain. Kamu masih fight. Bahkan cenderung kontra revolusioner (kalau disamakan dengan gerakan).

Kamu wanita, kaum lemah tapi kamu sanggup bertahan. Hingga detik ini saja aku sudah menyembahmu. Apalagi kamu bisa terus hidup dengan caramu. Di Jakarta ini.

Kehidupan kamu memang penuh pernik yang sarat perang batin. Punya anak pertama karena MBA (married by accident). Kini sudah berusia 10 tahun. Anak kedua 6 tahun. Anak ketiga 3 tahun. Suamimu…entah kemana.

Dua anakmu kamu tinggal di mana, kamu belum sempat cerita. Sekarang kamu tinggal dengan anak bungsumu, Rey. Anak yang lucu, periang, ganteng, putih, mudah bergaul. Persis kamu.

Melihatmu pertama aku berpikir kamu hidup just for fun. Mengenalmu lebih dekat, aku langsung terhenyak. Oh my god…kamu bisa sangat bertahan dengan kehidupanmu.

Memang kamu udah cerita soal your ex husband, pekerjaanmu dulu, sebagian kecil hidupmu.

Tapi…kamu belum sempat cerita kerjamu itu apa. Bagaimana caranya menghidupi kamu dan juga anakmu. Bagaimana kamu harus terus hidup di Jakarta. Bagaimana kamu harus hidup di kamar kos yang kecil dan pengap. Bagaimana kamu mendidik Rey.  

Tapi…kamu nggak mengeluh. Kamu tetap sabar merangkai waktu demi waktu. Kamu tetap survive. Meski kadang-kadang waktu buat Rey, sangat jarang. Namun, perilaku Rey sangatlah baik.

Spiritmu untuk terus hidup. Itulah yang menampar aku. Menyadarkan aku. Membangunkan aku dari terlena wanginya kehidupanku.

Belum pernah aku merasakan tamparan seperti ini. Aku merasa sedih, prihatin, seneng. Semua itu bercampur jadi satu.

Melihatmu…aku janji pada diriku sendiri untuk bisa terus membantumu. Memang tidak bisa banyak. Tapi aku baru mampu segitu.

Say…aku ikhlas membantumu, meski aku harus susah payah. Aku janji akan bantu kamu dan Rey…minimal keluar dari kerasnya kehidupanmu. Biar kamu bisa tenang mengurusi Rey.

Apapun masalahmu, ceritalah padaku…aku akan dengan sekuat tenaga membantumu….i promise. Apapun. Untuk kamu dan Rey.

Setiap hari…aku selalu merindukanmu…melihat kamu tersenyum, aku merasa tenang. Keep smile girl…kamu cantik kalau tersenyum. Don’t give up…dan aku yakin kamu gak akan. Karena kekuatanmu untuk survive terbuat dari baja.

Rey…jangan nakal ya dik…turuti kata mamamu. Hibur dia, karena kamu ia bisa terus bertahan.

Ia akan selalu menjagamu. She is your and my superhero… dan kita berdua akan menjaganya…

 

 

 

No Responses Yet to “Nothing is impossible, if your heart is willing”

Leave a Reply