Tenda hijau tentara itu masih tegak berdiri di depan rumah. Tumpukan kursi plastik yang juga berwarna hijau masih ada di pojok depan rumah.
Meja kursi kayu sederhana pun belum dimasukkan ke ruang tamu yang lantainya masih dilambari karpet bergaris hijau. Sebuah buffet diletakkan di tengah untuk memisahkan antara ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruang tidur.
Rumah berukuran 3 m x 8 m itu terlihat gelap. Neon 10 watt tak sanggup meneranginya. Meski begitu, beberapa anak kecil tetap asyik bermain-main di depan buffet yang berisi televisi 21 inch.
Di dekat anak-anak kecil itu, duduk seorang perempuan muda. Sambil bersandar pada tembok rumah, ia memperhatikan riangnya anak-anak itu bermain.
Wajah perempuan itu tampak dipenuhi kesedihan. Titik airmata tampak mengalir melalui pipinya. Saat seorang dari anak kecil itu menghampirinya, ia buru-buru tersenyum dan menghapus airmatanya. Tampak anak perempuan lucu itu adalah puterinya.
Setelah mengelus rambut anaknya, perempuan itu memintanya terus bermain bersama teman-temannya. Sesekali, perempuan itu mengelus perutnya yang membesar.
Saat tangannya mengelus perutnya, airmata kembali menetes. Bahkan, airmata itu menjadi tangisan kecil. Kedua tangannya ditangkupkan menutupi wajahnya.
Melihat perempuan itu menangis, seorang ibu-ibu buru-buru mendatanginya. Tangan renta ibu itu dengan lembut mengelus rambut perempuan itu. “Sudahlah Nak, semuanya sudah ada yang mengatur. Tabahlah,” ujar ibu itu menenangkan perempuan itu.
Mendengar kata-kata itu, perempuan itu lantas mengusap airmatanya. Ia kembali memandang anaknya. Setiap melihat anak perempuannya tertawa bersama teman-temannya, airmatanya langsung menetes.
Rewan (26), nama perempuan itu. Rewan adalah istri Kopral Dua (mar) Hariyadi (31) yang tewas saat mengikuti latihan perang Armada Jaya XXVII tahun 2008 di Situbondo, Jawa Timur.
Hariyadi tewas setelah tank Amfibi BTR-50P buatan Rusian tahun 1962 yang ditumpanginya tiba-tiba tenggelam, Sabtu (2/2). Hariyadi tidak sendiri, bersamanya tujuh marinir juga tewas.
Hariyadi yang lahir pada 13 September 1977 masuk menjadi marinir pada tahun 1996. Hariyadi adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, Wagimin adalah pensiunan tentara tahun 1967 dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan I Direktorat Zeni AD.
Kini, Hariyadi telah dimakamkan di Tempat Makam Pahlawan Bahagia, Tangerang.
Menurut Rewan, setiap melihat putrinya, Nova Ardani Ristiandila (5), ia seperti melihat sosok suaminya. Hati Rewan tidak kuat bila Nova menanyakan keberadaan ayahnya.
“Nova sudah tahu bahwa ayahnya sudah meninggal. Tapi ia masih sering menanyakan pada saya. Saya belum menceritakan kejadiannya pada Nova. Nanti kalau Nova sudah siap. Nova masih gembira karena banyak saudaranya di sini,” ungkap Rewan saat ditemui di rumah mertuanya di Jalan Kesatrian VD, Kebonmanggis, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (7/2) lalu.
Rewan memilih bersama keluarga suaminya di Komplek Angkatan Laut itu karena ia belum bisa melalui hari-harinya sendirian di rumahnya di daerah Citayem, Jawa Barat.
Rewan memang masih terlihat syok dengan kematian Hariyadi. Setiap selesai menjawab satu pertanyaan, Rewan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Airmata terus mengalir saat Rewan mencoba bercerita soal kematian Hariyadi. Kesedihan Rewan sangatlah dalam. Rewan ditinggalkan Hariyadi disaat ia tengah mengandung 4 bulan.
“Setiap melihat Nova dan mengelus perut saya ini. Kenangan bersama suami saya terus datang. Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya belum…,” ucap Rewan tanpa bisa meneruskan kata-katanya.
Kembali, Rewan mengusap airmatanya. Matanya semakin sembab. Rewan hanya bisa mengumam lirih saat Nova datang dan minta dipangkunya.
Di pangkuannya, Nova asyik memainkan sebuah mainan berbentuk handphone berwarna merah jambu. “Mama, Papa kok nggak pulang-pulang. Nova kangen sama Papa?” tanya Nova pada Rewan tiba-tiba.
Mendengar pertanyann Nova, Rewan tidak sanggup membendung airmatanya. Kata-kata yang Rewan sendiri ingin tidak mendengarnya. Meski itu keluar dari bibir puterinya yang lucu.
“Nova, Papa sedang tugas di tempat yang jauh. Seperti teman-teman Papa lainnya,” kata Rewan sambil mengusap rambut Nova.
“Mama bohong ya? Papa kan sudah meninggal,” ucap Nova sambil tetap memainkan mainannya.
Airmata Rewan semakin deras mengalir. Ibu mertuanya yang duduk disampingnya mencoba menenangkan Rewan. Untuk waktu yang cukup lama, dari bibir Rewan tidak terdengar satu ucapan pun.
Rewan hanya bisa menangis saat ditanya kapan bertemu dengan suaminya untuk pertama kali. Rewan juga tidak bisa bercerita kenangan-kenangan terakhirnya bersama Hariyadi. “Maaf ya.” Hanya itu yang keluar dari bibir Rewan.
Kepergian Hariyadi untuk selama-lamanya memang tidak disangka-sangka Rewan. Selama Rewan dinikahi Hariyadi pada tahun 2002, ia sudah sering ditinggal tugas.
“Selama suami saya tugas di luar daerah, saya tidak pernah merasa khawatir. Meskipun, ia tugas selama berminggu-minggu maupun berbulan-bulan. Saya yakin suami saya bisa menjaga diri,” ujar Rewan.
Begitu juga saat Hariyadi yang menjadi prajurit Yonif-2 Marinir Cilandak ditugaskan sebagai anggota Satgasmar Rencong Sakti XXVI pada tahun 2004 ke Nanggroe Aceh Darussalam.
Satgasmar Rencong Sakti XXVI adalah salah satu batalyon yang terkena tsunami saat membantu pemulihan keamanan di Bumi Rencong tersebut.
“Saat bencana tsunami terjadi, saya tidak khawatir meski suami saya tugas di sana. Suami saya bisa selamat dari bencana itu. Ada beberapa teman-temannya sesama marinir yang tidak selamat,” terang Rewan.
Saat Hariyadi mengungkapkan bahwa dirinya akan mengikuti latihan perang di Jawa Timur pada tanggal 24 Januari, Rewan bersikap seperti biasanya. Namun, ternyata pemberangkatan latihan diundur.
“Hari Rabu, tanggal 23 Januari dia bilang, Kamis jadi mau latihan ma? Kalau nggak jadi pulang ke Citayam ya? Akhirnya Kamis siang balik, pulang ke Citayam. Katanya, berangkatnya baru Jumat tanggal 25 Januari,” jelas Rewan sembari mengusap lelehan airmatanya.
Pada tanggal 25 Januari, Hariyadi berangkat latihan perang. Selama Hariyadi mengikuti latihan perang, Rewan mengaku tidak pernah mendapatkan firasat apa-apa.
Satu hari sebelum kecelakaan, Rewan sempat berkomunikasi dengan Hariyadi. “Dia menyuruh saya untuk mengambil gaji ke Cilandak. Ia juga mengatakan bahwa balik ke Citayamnya tanggal 7 aja,” kata Rewan.
Rewan tidak tahu bahwa telepon Hariyadi adalah telepon terakhirnya. Terakhir dirinya untuk bisa bersama-sama dengan suaminya tercinta. Rewan tidak mengetahui kalau Hariyadi akan meninggalkan dirinya dan Nova untuk selama-lamanya.
Suara burung gagak yang lewat di atas rumah mereka di Citayam ternyata tanda bahwa Hariyadi, suami yang dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya.
“Gagak itu terbang di atas rumah jam 01.30 pagi. Gagak itu jug abunti dua kali. Awalnya saya tidak menganggap bunyi gagak itu sebagai firasat. Tapi ternyata memang iya,” jelas Rewan lirih.
Minggu (1/2) jam 11.00 WIB, pintu rumah Rewan di Citayem diketuk seorang laki-laki berpakaian marinir. Saat mengintip melalui tirai jendela depan rumahnya, Rewan langsung merasa bahwa telah terjadi hal yang buruk pada suaminya.
“Saya langsung pusing. Saya tahu bahwa orang marinir itu membawa kabar buruk. Begitu ia menjelaskan bahwa suami saya gugur dalam tugas, saya hanya bisa menangis,” terang Rewan.
Sorenya, Rewan kemudian menghubungi ayah Hariyadi, Wagimin yang tengah kerja sebagai penjaga malam di Kompleks Liga Mas, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Bersama dengan kakak keempat Hariyadi, Wahyudi, Rewan dan Nova berangkat ke Surabaya untuk menjemput jenazah suaminya. “Saya sempat mimpi gigi saya copot. Kakak sulungnya juga bermimpi, ia memulangkan ari-ari anaknya yang baru lahir ke Depok,” ucap Wahyudi dengan berlinang airmata. Wahyudi sendiri akhirnya tidak kuat menahan kesedihannya dan memilih untuk masuk ke dalam kamar.
Sementara itu, di tempat lain, istri Kopda Nugroho Pamungkas (34), Arfa Erviana (31) tampak lebih tabah. Meski masih terlihat sedih, Arfa yang ditemui di rumahnya di daerah Karang Timur, Tangerang tampak tegar.
Diselingi candaan puteri semata wayangnya, Bella Satria Surya Ananda Putri (6), Arfa mencoba merangkai kata menceritakan kenangannya bersama suami.
“Mas Nugroho itu sangat dekat dengan Bella. Bella masih belum merasakan rasa kehilangan ayahnya. Bella masih gembira karena banyak saudaranya yang ke sini,” ujar Arfa.
Memang, siang itu, Bella asyik bermain-main dengan saudara-saudaranya di ruang tamu yang luas. Hujan yang turun dengan lebat membuat anak-anak kecil ini malas bermain di teras rumah.
Dengan memakai celana panjang dan kaos loreng yang depannya bertuliskan marinir, Bella asyik berkejar-kejaran dengan salah satu saudaranya.
Dikatakan Arfa, dua hari sebelum berangkat untuk latihan perang, Nugroho sempat mengajari Bella naik sepeda. “Karena libur, mas Nugroho memilih untuk mengajari Bella naik sepeda. Dalam dua hari, Bella sudah mahir bersepeda,” ucap Arfa.
Dalam kesehariannya, saat libur, Nugroho memang selalu bersama dengan Bella. Kesibukan Arfa sebagai perawat di Rumah Sakit Husada Insani Tangerang membuat Arfa jarang bertemu Bella.
Apalagi, Arfa tengah melanjutkan pendidikannya di Politeknik Kesehatan Bandung Program Studi Keperawatan Tangerang. “Kalau saya sibuk, mas Nugroho yang selalu bersama Bella,” kata Arfa.
Saat Nyata meminta Arfa untuk merepro foto Nugroho, Bella yang tengah bermain langsung berdiri. “Biar Bella ambilkan ya,” kata Bella. Dengan berlari, Bella menuju kamar ayah ibunya untuk mengambil foto almarhum ayahnya.
“Kalau Bella kangen sama ayah. Bella akan lihat foto ayah,” ucap Bella sambil mendekap foto almarhum ayahnya yang dibingkai sederhana.
Arfa yang melihat polah tingkah puterinya tak kuasa menahan haru. Sambil mengusap airmatanya, Arfa mengusap rambut Bella yang sudah duduk di kelas I SD Negeri 011 Joglo, Jakarta Barat. “Ya begitu itu Bella. Kalau saudaranya sudah pulang, saya nggak tahu ia akan gimana,” ungkap Arfa pilu.
Setelah Bella menyerahkan foto, ia kembali bermain-main dengan saudara-saudaranya. Sementara, Arfa meneruskan ceritanya.
“Bella lebih dekat dengan ayahnya karena ia orangnya sabar. Mas Nugroho lebih sabar daripada saya saat menghadapi anak. Makanya, Bella sayang sama ayahnya,” terang Arfa.
Menurut Arfa, sebenarnya setelah Nugroho pulang latihan, ia ingin memperbaiki rumah. Menurut Nugroho, rumah yang mereka tempati harus lebih diperindah agar nyaman.
“Mas Nugroho ingin rumah ini jadi lebih bagus. Tapi ternyata Tuhan memanggilnya lebih dulu. Jadinya saya nanti akan meneruskan keinginannya untuk memperbaiki rumah,” kata Arfa mantap.
Meski, kini jenazah Nugroho telah tenang di Tempat Pemakaman Keluarga di Tangerang, kenangan indah saat bersama mengarungi rumah tangga masih dikenang Arfa.
Arfa ingat saat keduanya pertama kali bertemu di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo Jakarta pada tahun 1996 atau satu tahun setelah Nugroho masuk marinir. Saat itu, Arfa sedang praktek di rumah sakit itu. Sedangkan Nugroho sedang menunggui kakak angkatannya yang sedang sakit.
“Saya kebetulan tugas di ruang tempat kakak angkatannya sakit. Ia begitu manis dan kita langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia yang pertama kali minta berkenalan,” kenang Arfa berkaca-kaca.
Meski sudah berpacaran, keduanya jarang bertemu. Waktu Nugroho dihabiskan dinas di Ambon saat konflik berkecamuk. Sedangkan, Arfa ditugaskan di RS Usada Insani Tangerang.
“Kita pacarannya lewat telepon. Saat ia bertugas, setiap hari ia selalu menelepon saya. Kalau kebetulan ia pulang, kita bertemu. Ia memang bukan tipe lelaki yang romantis tapi ia sangat sayang pada saya,” ucap Arfa mengenang masa-masa pacarannya.
Setelah 4 tahun berpacaran, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Beberapa hari setelah menikah, Nugroho kembali ditugaskan ke Aceh.
Hanya berselang beberapa minggu, Nugroho kembali ke Aceh untuk membantu memulihkan keamanan akibat konflik RI dengan GAM. Nugroho berada di Aceh selama 1 tahun.
“Memang saya sudah terbiasa ditinggal. Saya maklum karena ia pergi untuk mengabdi kepada Negara. Meski kadang-kadang kangen dan merasa kesepian. Saat sudah ada Bella, sepi ini sedikit terobati,” ungkap Arfa.
Kini, semua tinggalah kenangan. Meski sedih, Arfa mengaku tabah menghadapi cobaan Tuhan yang sangat berat ini. Ia harus membesarkan buah hati mereka sendirian.
Hujan yang turun di luar semakin lebat. Anak-anak kecil masih asyik bermain-main ketika Arfa bercerita awal dirinya diberitahu bahwa suaminya meninggal saat latihan.
“Minggu (3/2) jam 10.00 WIB, saya ditelepon oleh mertua yang tinggal di Surabaya. Saat itu saya tengah membersihkan rumah. Saya langsung histeris dan tak kuat berdiri. Orang rumah, bingung melihat saya,” terang Arfa.
Satu jam setelah diberitahu mertuanya, petugas dari kesatuan suaminya dating ke rumah. Meski masih syok, Arfa menguatkan diri dan hatinya mendengarkan penjelasan komandan marinir tersebut.
“Komandan itu menerangkan bahwa suami saya gugur dalam tugas. Ia jug amenjelaskan pengaturan kepulangan jenazah Mas Nugroho. Saya tidak terlalu mendengarnya karena masih syok,” kata Arfa.
Padahal, Jumat (1/2) sekitar pukul 15.30 WIB, Nugroho masih sempat berkomunikasi dengan dirinya dan Bella melalui telepon. Nugroho menanyakan kabar Bella.
“Bella sempat menanyakan kapan ayah pulang. Dan dijawab bahwa mas Nugroho akan pulang pada tanggal 10 Februari. Ia berpesan agar Bella jangan nakal dan nurut kata mamanya,” jelas Arfa.
Karena sebelumnya Nugroho akan pulang pada tanggal 5 Februari, Arfa mencoba menanyakan sebab diundurnya kepulangannya ke Jakarta. “Menurut suami saya, latihannya diperpanjang. Jadi pulangnya tanggal 10 Februari. Ternyata, malah terjadi kecelakaan,” ucap Arfa.
Selama menjalani latihan perang, Nugroho sudah tiga kali meneleponnya. Yang pertama, saat dirinya sudah berada di Pelabuhan Tanjung Priok. Yang kedua saat dirinya berada di kapal yang akan mengakutnya ke Banyuwangi. “Yang ketiga ternyata yang terakhir adalah satu hari sebelum tragedi itu,” ungkap Arfa.
Seperti halnya Rewan, Arfa juga mengaku sebelum terjadi kecelakaan pada suaminya, ia tidak mendapatkan firasat apa-apa. Ia juga tidak mengalami mimpi yang aneh-aneh.
“Pas berangkat saya sedang dinas malam. Katanya ia akan berangkat pagi-pagi. Tapi saat saya pulang dini hari, ia sudah berangkat. Ia hanya berpesan agar Bella dititipkan ke rumah neneknya. Biar tidak sendirian saat saya dinas malam,” kata Arfa.
Namun yang terjadi adalah, ia dan Bella akan benar-benar sendirian. Arfa juga berjanji akan selalu merawat tanaman yang menjadi kesibukan suaminya saat senggang.
Arfa dan juga Rewan adalah istri-istri yang tabah dan juga istri-istri dari para marinir yang selalu menyerahkan seluruh hidupnya pada Negara ini./// (dipublikasikan di Tabloid Nyata 1911)