abang-abang
hanya sebuah cerita?

Agu
23

ingin kutikam jantungku sendiri agar nafasku terhenti

ingin kubutakan kedua mataku agar tak kulihat mereka bercinta

ingin kupatahkan kedua kakiku agar ku tak bisa kemana-mana

ingin kuhancurkan sepuluh jari tanganku agar ku tak bisa menuliskan kata-kata

Lalu…ku tersadar bahwa ternyata aku telah mati…

hari ini baru saja jasadku dikuburkan

gundukan tanahnya pun masih baru dan basah

sebaran bunganya pun masih terasa harum baunya

Ya…aku telah mati hari ini…

Agu
23

Errrrr….masih bingung mo nulis apa? Gini…ahhh…apa ya? Damn! Masak hrs mabuk supaya bisa menulis. Sialan!!! Lho malah pengen maki-maki…gmn ni??? Arrrgggghhhhh

Terus terang hidup gw baru sedikit gelap ato mlh dah gelap total. Nggaklah gw ga akan bisa rapuh hanya karena makhluk yg disebut wanita…well terus terang hidup gw sih ga pernah jauh dr wanita.

Tapi…saat ini gw semacam dpt karma. Apa karena gw percaya karma. Apa karena gw ga pervaya agama. Aduh!!! Makin rumit malahan. Yg jelas gw pengen marah, maki-maki, mabuk, teler. Gw ingin masa bodo…saat ini aja tapinya…masa bodo kalo gw ngabisin Chivas Regall di kamar (lagi!!!…blom ciu sunquick-nya)? Juga nyoto mpe kantung mata segede bagong? Atau mkn cece’ mpe tangan dingin polll….gw ga peduli…terserah mo dibilang apa!

Hanya dugem ma nonton hardcore yg bisa nurunin temper hati gw…temper yg sekarang-sekarang ini kayaknya smkin meninggi. Anjing!!!! Apalagi ini!

Smua itu gara-gara si C suka ma orang yg ternyata juga suka dugem dan mabuk. Pdhl si C itu ngelarang gw tuk dugem ato mabuk!!! Halah-halah…wake up baby…don’t close ur heart! Kalo perlu buka mata lo lebar-lebar…

Ya…ya…ya…dugem pas closing dan moshing bersama komunitas hardcore…yeahhhhh…aku ingin bersenang-senang…melupakan semua kejenuhan…

Note: kerja kok seperti dimintai kawin ma emaknya…kapan seneng-senengnya…

Feb
21

Siapa yang tidak kenal dengan permainan yoyo? Dulu, salah satu permainan tradisional ini banyak dimainkan anak-anak di kampung. Sekarang ini, tak banyak anak-anak bisa memainkan yoyo. Bahkan permainan yoyo seperti juga permainan tradisional lain sudah tergeser oleh kehadiran video games yang perkembangannya sangat pesat.

Namun, berkat seseorang yang bernama Oke Rosgana (33), yoyo kembali menjadi sebuah permainan yang digemari. Terlebih lagi, yoyo bukan lagi menjadi permainan untuk anak-anak.

Oke memang telah membuat yoyo begitu digemari dan mengundang decak kagum. Betapa tidak, Oke memainkan yoyo bukan dengan cara seperti biasanya yang hanya dilempar ke bawah lantas kembali ke genggaman.

Oke memainkan yoyo dengan cara-cara ekstrim dan penuh dengan trik-trik dengan skil tinggi. Cara-cara yang orang awam sangat sulit untuk mencernanya. Bahkan cenderung tidak masuk akal.

Tak hanya itu, melalui permainan yoyo, nama Oke Rosgana yang juga sangat dikenal di dunia peryoyoan dunia. Namanya disejajarkan World Yoyo Master dari Brazil Rafael Matsunaga, World Champion 3A dari Kamboja Paul Yath atau Hiroyuki Suzuki, World Yoyo Champion 2006 dari Jepang.

Karena dinilai sudah jago main yoyo, Oke sudah tidak diperbolehkan untuk mengikuti lomba yoyo. Level Oke sudah naik kelas, ia menjadi juri di berbagai even yoyo seperti juri Superyoyo Contest di Jakarta sebanyak 5 kali, Juri Jakarta Yoyo Contest 2007.

Bahkan, Oke pernah diundang untuk menjadi juri di Asia Pasifik Yoyo Contest tahun 2006 di Genting, Malaysia. Tahun 2007 lalu, Oke memenangkan sebuah yoyo seharga US$450 dari sebuah kontes gambar desain pog atau tutup yoyo yang diadakan Duncan, perusahaan yoyo Amerika. Rencananya, desain yang dibuatnya akan dirilis Duncan pada bulan Februari nanti.

Oke ternyata tak hanya mahir bermain yoyo. Oke juga jago untuk urusan mendesain gambar pog yoyo. Bahkan, hasil desainnya pernah menjadi juara desain yoyo di Amerika.

Lalu, pernah Juara I logo Yoyowiki tahun 2005, juga juara I Proyo Pog Contest 2007. Kedua lomba ini diadakan di Amerika dan seluruh peserta mengirimkan gambar desainnya lewat E-mail.

Siapa sangka, kalau Oke Rosgana hanyalah seorang pemuda kampung dari Ciheuleut, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ya, Oke memang berasal dari kabupaten yang berjarak 150 km dari Jakarta.

Tak heran, Oke mempunyai mimpi untuk membuat Kabupaten Subang bukan hanya sebagai Kota Nanas tapi juga Kota Yoyo. Di Indonesia, toko yang menjual yoyo standar internasional hanya ada di Subang. Ia juga mengembangkan permainan yoyo sebagai sebuah ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Subang.

“Ekstrakurikuler membuat saya lebih memiliki nilai pendidikan. Saya membawa yoyo ke lebih serius, yaitu ke pendidikan. Ini baru berjalan 4 bulan. Jadi bukan hanya trik dan kontes,” ungkap Oke dengan mimik serius.

Saat ditemui di rumahnya, BTN Ciheuleut Indah, Subang, Jawa Barat, Oke menunjukkan kebolehannya memainkan yoyo. Padahal, saat itu dirinya baru saja pulang dari tempat kerjanya. Oke adalah pegawai Bagian Promosi Dishubpar Kabupaten Subang.

“Profesi saya sebagai pegawai Dishubpar sangat relevan dengan yoyo. Melalui yoyo, saya ingin mengembangkan pariwisata Kabupaten Subang,” jelas Oke sambil terus memainkan yoyonya.

Masih dengan seragam PNS-nya, Oke semangat memainkan yoyo yang ada di genggaman tangan kanannya. Anak kembar pasangan Tedi Rosadi dan Sugantini ini langsung memutar-mutar yoyo mengelilingi badannya.

Gerakan putarannya semakin lama semakin cepat. Kadang-kadang, yoyo berwarna hijau itu dilemparnya ke samping kiri dan kanan. Bulir-bulir keringat terlihat di dahi dan pelipisnya.

Siang itu, cuaca Subang memang sangat panas. Tapi laki-laki yang juga hobi main bumerang ini seakan tak memperdulikannya. Yoyo itu dilemparnya ke bawah dengan cepat.

Saat posisi yoyo masih berputar di bawah, dengan cekatan jari-jari tangan kirinya mengambil tali yang melilit yoyo itu. Dengan gerakan luwes, tali itu dibentuknya menjadi bermacam-macam pola.

Hebatnya, tali yang telah berbelit-belit membentuk pola itu bisa dengan mudah dikembalikan seperti semula. Dan itu dilakukannya dengan posisi yoyo dalam keadaan terus berputar.

Di Indonesia, banyak orang sudah bisa memainkan yoyo seperti Oke. Namun, orang yang sangat demikian ‘gila’ mencintai yoyo hanyalah Oke. Lelaki asal Subang itu juga menjadi awal perkembangan yoyo modern di Indonesia.

Melalui tangannya lahir Klub Yoyo Indonesia. Melalui kiprahnya juga yoyo semakin banyak diminati anak-anak muda. Bahkan sudah beberapa kali kontes yoyo diselenggarakan.

Ia juga membuat wadah pecinta yoyo Indonesia lewat yoyoindonesia@yahoogroups.com. Anggota yang berjumlah sekitar 140 orang ini tersebar di Subang, Bandung dan Jakarta.

“Bagi yang ingin bertanya seputar yoyo, bisa imel saya ke rosgana@yahoo.com. Kita biasanya satu bulan sekali kumpul di Senayan untuk latihan dan sharing,” kata Oke promosi.

Pantas pula, Oke disebut sebagai father of yoyo Indonesia atau bapak yoyo Indonesia. Tak sedikit yang memanggilnya yoyoman Indonesia. Di luar negeri, Oke dikenal sebagai yoyo hero Indonesia.

Ya, Oke memang pahlawan yoyo bagi Indonesia. Oke yang pernah menjadi juara pertama 30 Menit Menjadi Bintang ini telah membawa yoyo yang merupakan permainan anak-anak menjadi permainan yang sangat bergengsi.

Kedasyatan laki-laki kelahiran Bandung, 20 Oktober 1975 ini memainkan yoyo bukan didapat secara instan. Namun dengan ketekunan dan kerja keras. Akhir tahun 1999 adalah waktu pertama kali Oke melihat orang memainkan yoyo.

Kala itu, Oke yang masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Tehnologi Bandung (FSRD ITB) melihat Yohanes van Elzen dan Kate Miller dari Amerika memperagakan kebolehannya bermain yoyo di sebuah mal di Bandung.

“Saya seneng yoyo karena triknya unik. Saya juga kenal yoyo waktu dulu masih SD. Saya nglihatnya hanya sebatas mainan biasa saja. Lempar sekali dua kali udah bosen gitu. Enggak ada yg didapet. Setelah umur 25 tahun, saya melihat trik ternyata bisa dimainin macem-macem dan membuat orang terpukau,” cerita Oke.

Karena tertarik, Oke membeli sebuah yoyo berjenis Turbo Bumble Bee bermerk Proyo yang dipromosikan Yohanes dan Kate. Yoyo yang bentuknya masih standar (tidak memiliki celah lebar) dibelinya seharga Rp 99.900.

“Yoyo itu adalah yoyo pertama yang pakai ball baring. Saya pakai itu untuk belajar. Waktu itu ya masih belum bisa melakukan trik-trik yang lebih sulit,” ujar Oke.

Dengan menggunakan yoyo itu pula, Oke mulai mempelajari trik-trik bermain yoyo lewat internet. Karena tidak mempunyai uang lebih, Oke memakai internet gratis di kampusnya.

“Di kampus kan ada radio kampus. Di situ ada fasilitas internet gratis kan. Kalau malem kan udah enggak dipake tuh. Saya yang pake habis Isya sampai Subuh. Saya mempelajari triknya. Paginya kuliah. Paling tidur 2-3 jam,” ujar Oke.

Hatinya mulai tertantang untuk lebih serius kala Yohanes van Elzen dan Kate Miller yang merupakan juara Proyo Amerika datang ke Bandung untuk kedua kalinya.

“Yohanes mengumumkan akan memberi yoyo seharga Rp 1 juta jika ada peserta dari Indonesia bisa memainkan trik yang ia tunjukkan. Saya ingin tahu rasanya main dengan yoyo Rp 1 juta. Apalagi yoyo ini masuk Guiness Book of Record 2000 sebagai yoyo yang paling diminati,” kata Oke sambil tertawa.

Berkat latihan 8 jam satu hari selama satu tahun, dari 25 orang peserta hanya Oke yang bisa melakukan trik yang ditunjukkan Yohanes. Akhirnya, Oke bisa membawa pulang yoyo Cold Fusion GT yang diperlombakan.

Namun, setelah itu, karena tidak ada teman yang juga bermain yoyo, Oke bermain sendirian. Untuk menambah ilmunya, selain rajin browsing internet, Oke juga ikut sebuah forum pecinta yoyo internasional bernama Dave’s Skill Toys pada tahun 2001.

Selanjutnya, tahun 2002 sampai tahun 2004 merupakan tahun suram bagi pecinta yoyo Indonesia. Untuk itu, Oke memutuskan untuk berhenti bermain yoyo. Selain harus lulus kuliah, periode itu, yoyo sangat sulit didapat dan hampir tidak ada kejuaraan yoyo.

“Saya harus membereskan kuliah dulu. Sudah semester 10 soalnya. Selain itu, saya juga banyak proyek bersama teman-teman seperti bikin film, fotografi juga film pendek,” ucap Oke yang lulus kuliah tahun 2002 ini.

Tiba-tiba, pada pertengahan tahun 2004, secara tidak sengaja, Oke melihat sebuah yoyo bernama Hitman keluaran perusahaan YoYoJam. Hati Oke kembali bergetar.

“Harganya Rp 600 ribu. Ditambah ongkos kirim jadinya Rp 1 jutaan. Saya nabung, cari cara untuk dapetin yoyo itu. Dalam pikiran, saya harus dapat yoyo Hitman ini,” jelas Oke.

Setelah uang terkumpul, Oke malah merasa sayang untuk membeli yoyo incarannya itu. Uang itu akhirnya dipakai untuk menikahi Milda Halida. Mereka telah dikarunia seorang anak lucu bernama Hasya Azka Syahida yang kini berumur 1 tahun.

“Hasil nikahan saya beliin tali yoyo dan aksesoris lainnya. Semakin lama saya malah makin memikirkan untuk mencari cara ngedapetin yoyo itu. Itu selalu terbayang,” terang Oke.

Otaknya terus diputar agar bisa segera menghasilkan uang. Suatu waktu saat sedang melihat forum Dave’s Skill Toys yang bermarkas di Albuquerque, Amerika ini timbul sebuah ide cemerlang.

Sebuah ide yang nantinya membawa nama Oke di kenal para pecinta yoyo dunia. Idenya adalah menggambar pog yoyo. Terlebih lagi, ia lulusan FSRD ITB.

“Akhirnya saya gambar dan gambar itu saya tawarin ke forum. Masih gratisan sih. Makin lama makin banyak yang pesen. Meski gratis, banyak dari orang yang saya gambar mengirimkan bayaran yoyo ke saya,” jelas Oke.

Keuntungan Oke ternyata tidak hanya dapat yoyo tapi juga dikenal di seluruh anggota forum yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Karirnya semakin mengkilat saat seorang Amerika bernama Kevin Nelander memesan desain untuk logo perusahaannya Atomic Cow untuk pertama kalinya. Bayarannya yoyo Hitman dan Wind Furry.

“Banyak yang pesen gambar ke saya. Bukan hanya dari AS tapi juga dari Singapura, Australia, berbagai negara Eropa termasuk Inggris. Kevin sendiri ternyata memberi saya empat yoyo,” kata Oke bangga.

Namanya semakin melambung saat pemilik forum yang diikutinya, Dave W. Hall memintanya untuk membuatkan logo perusahannya. Dave merupakan salah satu distributor yoyo terbesar di Amerika. Ia meminta Oke atas saran Kevin.

“Saya seneng banget. Setahu saya dia sudah ngadain lomba untuk logo perusahaannya. Tapi dia enggak terlalu suka dengan logonya itu. Kemudian dia nyari lagi. Akhirnya setelah melihat gambar bikinan saya dia seneng. Apalagi saya juga mintanya enggak dibayar pakai uang tapi pakai yoyo,” jelas Oke.

Dave ingin logonya bergaya oldschool atau klasik bernuansa biru dan itu bisa dipenuhi Oke. Dave juga memesan desain untuk t-shirt, stiker dan logo untuk museum yoyo miliknya. Pesanan Dave terus berlanjut hingga sekarang.

Gambar desain Oke tak lagi gratis. Setiap gambarnya dihargai US$ 400. Pundi-pundinya akan bertambah US$ 200 jika gambarnya dipakai dalam kontes yoyo dunia.

Tahun 2005, pesanan terus mengalir. Perusahaan Inggris, hspin.com memintanya menggambar 24 yoyo limited edition, RadiYoactive dari Afrika Selatan, YoYoGuys dan toko yoyo, Turf Store juga ikut memesan gambarnya.

Dari RadiYoactive, Oke bahkan diminta untuk membantu mempromosikan sebuah perusahaan susu di Sudan. Pada tanggal 20 Januari nanti, Oke untuk yang ketiga kalinya diminta datang ke Sudan.

“Kali ini, saya diundang dalam acara Khartoum International Fair 2008 yang diadakan setiap tahunnya pada pertengahan Januari. Saya juga akan membawa nama Indonesia. Mungkin saya akan membawakan jaipong atau pencak silat,” terang Oke.

Nama Oke memang harum sebagai rajanya desain pog yoyo dan juga permainan yoyonya. Tapi Oke tak berhenti sampai di sini, Oke kemudian membuat yoyo sendiri.

Yoyo yang terbuat dari alumunium ini diberi nama Rozzor yang beratnya 72 gram dan berdiameter lingkar 54 milimeter. Saat ini, Rozzor baru tahap prototipe.

“Karena di Indonesia kita bisa menemukan yang sangat bagus. Yang bagus banyak. Yang untuk profesional yang seimbang itu enggak ada. Makanya untuk itu saya memutuskan untuk bikin sendiri. Saya memutuskan untuk bikin yoyo metal, bertaraf internasional, kuatnya sama dan seimbang,” ungkap Oke.

Pembuatan Rozzor sendiri mengalami kendala. Selain bahan bakunya sulit, mesin yang digunakan pun harus mesin khusus bernama mesin CNC (Computerized Numerical Controled).

“Mesin ini bisa membuat presisi. Kata teman saya yang mempunyai mesin itu, membuat yoyo yang bagus lebih susah dari membuat mesin motor,” candanya.

Mimpi yang lain, lewat yoyo, Oke ingin lebih mengenalkan Subang dan juga Indonesia pada dunia internasional. “Saya ingin mengenalkan permainan yoyo di Indonesia sekaligus membawa orang dari luar negeri untuk datang ke Indonesia,” ujarnya.///(dipublikasikan di Tabloid Nyata edisi 1907)

Feb
21

Kesuksesan novel tetralogi Laskar Pelangi membuat seorang Andrea Hirata menjadi super sibuk. Berbagai kegiatan yang dulu sama sekali tidak pernah diimpikannya seolah seperti air bah yang datang menerjang.

Dari diskusi buku, beda buku, wawancara, talkshow di stasiun televisi sampai dengan seminar di berbagai kota di Indonesia menjadi jadwal sehari-hari Andrea. Ditambah pekerjaan tetapnya sebagai staf analis PT Telkom Bandung.

Pertengahan tahun ini novel pertamanya, Laskar Pelangi akan diangkat ke layar lebar. Buku terakhir dari tetraloginya -Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor- Maryamah Karpov tinggal terbit setelah film Laskar Pelangi rilis di bioskop.

Selain bestseller di negeri sendiri, ternyata novel ini juga menjadi bestseller di Malaysia. Novel ini juga akan diterjemahkan dan akan terbit di AS dan Eropa.

Yang lebih membanggakan, novel Edensor masuk dalam lima besar di malam nominasi KLA (Khatulistiwa Literature Award) yang akan dilaksanakan di Plasa Senayan pada 18 Januari nanti.

Saat novelnya menjadi bestseller dengan jumlah cetakan hampir 200 ribu eksemplar, tentu saja Andrea banyak sekali mendapatkan keuntungan. Salah satunya adalah banyaknya penggemar. Bahkan dari skala 100 persen, ternyata 90 persen penggemarnya adalah perempuan.

Menariknya, meski lebih dari setengah penggemarnya adalah kaum hawa, Andrea yang merahasiakan umurnya ini mengaku belum bisa menemukan cinta sejatinya.

Saat ditemui di kantornya Telkom Training Center, Geger Kalong, Bandung, beberapa waktu lalu, Andrea mengungkapkan sekelumit kisah cintanya. “Kapan-kapan kita ngobrol soal cinta ini secara panjang lebar,” janji Andrea.

Untuk sebagian orang, cinta adalah menyenangkan. Bagi anak kelima dari enam bersaudara pasangan Seman Said Harun dan NA Masturah Seman ini, cinta adalah sangat menyusahkan. Begitu ia memandang sebuah cinta.

“Saya kira, saya itu tipe yang nggak gampang suka sama orang. Tapi kalau udah suka akan gila. Bisa sakit jiwa. Nggak bisa tidur, nggak bisa apa-apa. Jadi saya sangat berhati-hati,” ungkap Andrea.

Oleh karena itulah, sejak cinta monyetnya bersemi untuk pertama kali sampai menjadi novelis terkenal, tidak banyak cinta yang menghampiri diri Andrea yang alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

“Saya sebagai laki-laki itu bisa disebut cukup paceklik. Kalau saya ngobrol dengan teman-teman saya seangkatan, mereka punya mantan paling nggak 16. Saya sebenarnya pacaran sejak SMP juga, tapi wanita dalam hidup saya itu baru dua. Di jaman sekarang ini, saya itu nggak oke banget,” ujarnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Kedua perempuan yang mampu mengisi hatinya itu adalah seorang gadis Tionghoa yang menjadi cinta pertamanya. Dalam novel Laskar Pelangi, gadis itu dinamakan Njoo Xian Ling atau A Ling.

Saking dalamnya, Andrea sampai mencarinya ke berbagai negara dan juga lewat internet. Tempat pacaran favorit mereka adalah komidi putar yang ada di kampungnya.

“Waktu itu, rasanya bahagia sekali. Indah sekali di atas komidi putar. Tapi sampai saat ini saya belum bertemu lagi dan tidak tahu ada di mana,” ucap Andrea.

Sedangkan satunya adalah seorang gadis asal Jerman primadona kelas saat dirinya kuliah S2 di Sorbornne, Perancis. Gadis ini juga disinggungnya dalam novel ketiganya, Edensor. Dalam novel itu, gadis tersebut diberi nama Katya.

“Ya hanya dua itu. Karena dua itu saja sudah membuat saya cukup sakit jiwa. Makanya saya cukup berhati-hati. Nanti kapan-kapan saya ceritakan soal ini,” kata Andrea berahasia.

Masak diantara 90 persen penggemarnya tidak ada yang menarik hati? Mendapatkan pertanyaan ini, Andrea hanya tersenyum kecil. Dengan setengah tertawa, Andrea berkata,“Wah, kalau saya jadi oportunis nih bisa untung besar. Tapi saya pikir, saya sekarang ini masih sibuk. Jadi tidak terlalu memikirkannya.”

Kemudian Andrea malah menceritakan pengalaman menariknya dari tingkah polah penggemar-penggemarnya. “Luar biasa. Saya tidak menganggap saya kaya dan tampan untuk menjadi seorang idola. Tapi pembaca buku itu fanatik,” kata Andrea.

Pengalaman-pengalaman yang kadang membuat dirinya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Dari email atau sms yang isinya rela menjadi istri keduanya, sampai dengan mengiriminya lingeri.

“Saya pernah dikirimi lingeri oleh pembaca saya tujuh kali. Saya nggak ngerti maunya apa. Itu semua terjadi karena sebenarnya mereka mencintai buku. Bukan penulisnya,” terang Andrea.

Kenapa bukan penulisnya? “Suatu ketika saya diskusi di Sastra Universitas Indonesia. Suasananya ramai, rebutan nanya, waktunya udah habis. Seorang wanita nekad ingin bertanya. Katanya kalau nggak diberi kesempatan akan marah. Cantik sih. Ternyata ia protes dan kecewa karena wajah saya tidak secakep foto yang ada di novel. Saya bilang gimana ya ini pertanyaan sulit,” cerita Andrea sambil tertawa-tawa panjang.

Manusia Amfibi

Hari bertambah sore. Dari jendela kaca kantor Andrea yang terletak di lantai dua, cuaca terlihat mendung. Secangkir teh manis hangat yang menjadi teman mengobrol pun tinggal setengah.

Sambil membetulkan letak duduknya, Andrea masih semangat bercerita. Wajahnya terlihat lelah karena habis pulang dari Belitung. Obrolan berlanjut ke seputar pekerjaan.

“Saya lihat teman-teman penulis itu total dalam menulis. Bahkan meninggalkan profesinya. Saya pikir saya bekerja di sini dan saya menyukai pekerjaan ini,” ujar Andrea dengan mimik serius.

Maksudnya? “Saya menyukai pekerjaan sebagai penulis dan saya juga menyukai pekerjaan sebagai pegawai Telkom. Jadi saya seperti manusia amfibi. Berada di dua alam,” ungkap Andrea.

Ya, Andrea adalah manusia amfibi, begitu ia mengumpamakan dirinya. Setiap hari dari jam 08.00 sampai 17.00 WIB, Andrea sibuk dengan pekerjaan utamanya.

“Pagi sampai sore, otak kiri yang dipakai. Baju formal, rapi dan pakai dasi. Rambut sisiran dan klimis. Semuanya serba sistematis dan prosedural. Itu saya kalau pagi sampai sore,” jelas Andrea.

Layaknya drakula, selepas jam kantor, Andrea berubah bentuk. Darah senimannya menemukan wujudnya. “Di atas jam 17.00 WIB sampai malam, hidup saya sangat tidak teratur. Sangat imaginatif. Sangat berubah-ubah. Tapi saya pikir saya menyukai itu. Hidup pun jadi penuh colourful. Jadi seimbang,” terang Andrea.

Keasyikkan Andrea sebagai manusia amfibi membuat dirinya untuk memutuskan bahwa dua dunia ini tidak akan ditinggalkannya. Ia akan terus hidup di dalamnya.

“Saya pikir saya tidak akan memilih untuk keluar dari lingkungan ini. Malah saya ingin dua dunia ini menjadi satu. Tempat di mana saya bekerja juga memberikan keleluasaan bagi saya,” kata Andrea.

Namun, selama menjadi penulis, Andrea tidak mau terjebak dalam stigma narsisme. “Narsis itu adalah penyakitnya penulis. Aduh susah banget dikritik. Seneng banget memuji diri sendiri. Pengen pinternya sendiri. Tapi nggak mengikuti perkembangan jaman. Saya nggak mau menjadi penulis yang begitu. Asyik di dalam dunianya sendiri,” ujar Andrea.

“Saya ingi menjadi penulis yang memiliki kapasitas memadai untuk membuat analisis lebih dari sekedar cerita sastra. Lebih dari sekedar imajinasi. Nggak jaman lagi deh. Menghargai kecerdasan pembaca. Jangan sekali-kali berasumsi pembaca itu bodoh,” terang Andrea sambil meminum teh manis hangatnya.

Difilmkan

Teh manis itu akhirnya tandas dari cangkirnya. Langit yang mendung belum menurunkan air hujannya. Komplek Telkom Training Center semakin sepi. Dan obrolan semakin seru-serunya.

Apalagi yang diobrolkan adalah akan diangkatnya novel Laskar Pelangi ke layar lebar. Ini adalah kesempatan dan sebuah peristiwa yang juag tidak disangka-sangka Andrea.

“Ketika Laskar Pelangi dicetak ulang dalam tiga minggu. Saya banyak diekspos media. Saya mulai dihubungi beberapa orang yang ingin mengangkat cerita ini dalam konteks yang lebih luas yaitu film,” jelas Andrea.

Bukan Andrea kalau tidak pemilih. Dari sekian banyak produser yang menawarinya. Bahkan dengan menyebut angka-angka yang lumayan besar.

“Saya banyak dihubungi produser dan sutradara yang menawar dengan angka-angka yang fantastik. Ada yang Rp 1 M. Saya dibawa ke lokasi syuting dan melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Terus saya memutuskan untuk nggak jadi teken kontrak,” ungkap Andrea.

Lho kenapa tidak jadi? “Saya pikir Laskar Pelangi adalah sebuah memoar. Sebuah buku yang putih menurut saya. Saya sangat memilih sutradara, produser, scriptwriter yang terlibat dalam proyek ini. Saya menolak lama sekali tawaran untuk film Laskar Pelangi,” jelasnya.

Setelah tiga bulan akhirnya Andrea bertemu dengan Riri Reza. “Kayaknya kita ada chemistry. Kayaknya dia ada sixsense, indra keenam dalam melihat naskah. Tidak seperti orang lain melihatnya. Jadi saya pikir salah sekali kalau membuat film Laskar Pelangi itu sebagai film anak-anak,” katanya.

Ide Riri Reza untuk mengangkat sosio kultural yang bergolak di Belitong karena kehadiran PN Timah membuat Andrea memutuskan untuk menerima tawaran Mira Lesmana.

“Sebuah cerita yang substansinya itu bukan anak-anak. Nah, disitulah saya tertarik dengan Riri Reza. Saya juga melihat hasil karya dia. Gie itu kan diadaptasi dan kayaknya mereka mempunyai tim-tim yang kuat, ada mbak Mira Lesmana disitu,” jelas Andrea.

Film ini diproduseri Mira Lesmana dari Miles Production dan Avesina dari Mizan Cinema. Sedangkan untuk proses scriptingnya dikerjakan oleh Salman Aristo.

“Kami memaintaince sebuah hubungan kerja yang sehat. Di mana saya nggak banyak terlibat. Tapi saya diajak ngobrol. Saya pikir itu bagus,” terang Andrea.

Menjadi sukses sebagai seorang novelis ternyata bukanlah cita-citanya. Novel Laskar Pelangi sejatinya tidak untuk diterbitkan. Buku ini dibuat sebagai penghormatan atas guru semasa sekolah dasarnya yang bernama Muslimah.

“Itu sebagai hadiah kepada ibu guru saya yang sedang sakit tahun 2005. Ibu guru yang sejak SD begitu gigihnya mengajar di sekolah. Beliau hanya mengandalkan ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri, red). Mengajar dari umur 15 tahun. Saya kecil saya berjanji suatu saat akan menulis buku tentang beliau,” ujar Andrea.

Atas ‘keisengan’ temannya, akhirnya buku yang dikebutnya selama tiga minggu ini sampai ke sebuah penerbit. Oleh karena itu, sampai saat ini, Andrea masih belum percaya bahwa tulisannya tentang masa kecilnya menjadi bestseller.

“Saya sebelumnya belum pernah nulis novel. Saya bukan orang sastra. Saat sudah selesai, saya fotokopi, saya kirim ke beliau. Terus naskah itu dikirim teman saya di kantor ke penerbit. Tiga minggu kemudian saya dapat kabar novel itu bestseller saya nggak ngerti,” ucap Andrea.

“Saya kaget sekali dengan perkembangan terbaru, film, royalti dan jauh melebihi penghasilan saya. Dan saya bangun tidur bingung kok orang menyebut saya penulis sastra. Saya takjub,” kata Andrea.

“Lama saya untuk bisa memahami itu. Orang berbaris untuk meminta tandatangan saya. Nggak pernah terbayangkan oleh saya. Semuanya serba cepat dan baru,” imbuhnya.

Padahal, siapa kira, sebelum menjadi terkenal seperti sekarang ini, Andrea bahkan tidak pernah membayangkan sebagai seorang novelis. Bahkan sebelum membuat novel Laskar Pelangi, Andrea malah mengaku tidak pernah membaca karya sastra.

Satu-satunya buku yang pernah ia baca hanyalah buku yang berjudul If Only They Could Talk karya James Herriot. “Dari saya kecil sampai saya membuat Laskar Pelangi, dua tahun lalu, saya hanya membuku buku tipis itu. Saya nggak pernah membuat cerpen, membaca puisi. Saya adalah pembaca sastra yang buruk,” cerita Andrea.

Namun itu dulu, setelah novel Laskar Pelangi menuai sukses, Andrea menjadi getol membaca berbagai karya sastra. Baik itu terbitan lokal maupun luar.

“Tapi sekarang saya harus baca. Ini sebuah tuntutan. Saya juga belajar apa sih yang membedakan tulisan yang baik. Orang bilang plot, alur, penokohan. Menurut pendapat saya itu anggapan lama. Karena kalau baca buku Einstein’s Dreams karya Alam Lightman itu nyaris kacau semua. Jadi nggak bisa seperti itu,” jelas Andrea.

“Saya sekarang lagi doyan banget sama buku In Cold Blood karya Truman Capote. Ini buku yang luar biasa. Saya sangat suka bagaimana ia menggambarkan sosiologi Holcom, tempat kejadian pembunuhan terjadi. Saya baca 36 kali. Bagian pertama itu. Berulang-ulang. Orisinalitasnya, kejeniusan,” ucap Andrea.

Sekarang ini, masih adakah keinginan lainnya? “Sure. Saat ini saya sedang excited sekali dengan suatu program yang disebut Laskar Pelangi in Action,” ungkap Andrea.

“Jadi royalti dari buku dan film yang jumlahnya Rp 1 M lebih ini, buat kegiatan ini. Laskar Pelangi in Action ini adalah bimbingan intensif gratis untuk anak SMA yang potensial untuk masuk Perguruan Tinggi. Bimbingan untuk bidang Matematika, Kimia, Fisika, Bahasa Inggris dan Biologi,” kata Andrea.

Program Laskar Pelangi in Action ini sudah diperkenalkan di Belitung pada pertengahan Desember tahun lalu. Rencananya, program ini akan dijalankan April nanti seusai siswa-siswa sekolah menengah ujian.

“Saya ingin ide ini dipakai siapapun, tidak perlu membentuk yayasan, LSM, tidak perlu bikin proposal. Kelas itu tidak lama, cukup sebulan. Empat jam sehari. Tapi saya lihat pengaruhnya besar sekali. Bimbingan Belajar itu pengaruhnya luar biasa,” ujar Andrea. ///(dipublikasikan di Tabloid Nyata edisi 1906)

Feb
09

Tenda hijau tentara itu masih tegak berdiri di depan rumah. Tumpukan kursi plastik yang juga berwarna hijau masih ada di pojok depan rumah.

Meja kursi kayu sederhana pun belum dimasukkan ke ruang tamu yang lantainya masih dilambari karpet bergaris hijau. Sebuah buffet diletakkan di tengah untuk memisahkan antara ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga dan ruang tidur.

Rumah berukuran 3 m x 8 m itu terlihat gelap. Neon 10 watt tak sanggup meneranginya. Meski begitu, beberapa anak kecil tetap asyik bermain-main di depan buffet yang berisi televisi 21 inch.

Di dekat anak-anak kecil itu, duduk seorang perempuan muda. Sambil bersandar pada tembok rumah, ia memperhatikan riangnya anak-anak itu bermain.

Wajah perempuan itu tampak dipenuhi kesedihan. Titik airmata tampak mengalir melalui pipinya. Saat seorang dari anak kecil itu menghampirinya, ia buru-buru tersenyum dan menghapus airmatanya. Tampak anak perempuan lucu itu adalah puterinya.

Setelah mengelus rambut anaknya, perempuan itu memintanya terus bermain bersama teman-temannya. Sesekali, perempuan itu mengelus perutnya yang membesar.

Saat tangannya mengelus perutnya, airmata kembali menetes. Bahkan, airmata itu menjadi tangisan kecil. Kedua tangannya ditangkupkan menutupi wajahnya.

Melihat perempuan itu menangis, seorang ibu-ibu buru-buru mendatanginya. Tangan renta ibu itu dengan lembut mengelus rambut perempuan itu. “Sudahlah Nak, semuanya sudah ada yang mengatur. Tabahlah,” ujar ibu itu menenangkan perempuan itu.

Mendengar kata-kata itu, perempuan itu lantas mengusap airmatanya. Ia kembali memandang anaknya. Setiap melihat anak perempuannya tertawa bersama teman-temannya, airmatanya langsung menetes.

Rewan (26), nama perempuan itu. Rewan adalah istri Kopral Dua (mar) Hariyadi (31) yang tewas saat mengikuti latihan perang Armada Jaya XXVII tahun 2008 di Situbondo, Jawa Timur.

Hariyadi tewas setelah tank Amfibi BTR-50P buatan Rusian tahun 1962 yang ditumpanginya tiba-tiba tenggelam, Sabtu (2/2). Hariyadi tidak sendiri, bersamanya tujuh marinir juga tewas.

Hariyadi yang lahir pada 13 September 1977 masuk menjadi marinir pada tahun 1996. Hariyadi adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, Wagimin adalah pensiunan tentara tahun 1967 dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan I Direktorat Zeni AD.

Kini, Hariyadi telah dimakamkan di Tempat Makam Pahlawan Bahagia, Tangerang.

Menurut Rewan, setiap melihat putrinya, Nova Ardani Ristiandila (5), ia seperti melihat sosok suaminya. Hati Rewan tidak kuat bila Nova menanyakan keberadaan ayahnya.

“Nova sudah tahu bahwa ayahnya sudah meninggal. Tapi ia masih sering menanyakan pada saya. Saya belum menceritakan kejadiannya pada Nova. Nanti kalau Nova sudah siap. Nova masih gembira karena banyak saudaranya di sini,” ungkap Rewan saat ditemui di rumah mertuanya di Jalan Kesatrian VD, Kebonmanggis, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (7/2) lalu.

Rewan memilih bersama keluarga suaminya di Komplek Angkatan Laut itu karena ia belum bisa melalui hari-harinya sendirian di rumahnya di daerah Citayem, Jawa Barat.

Rewan memang masih terlihat syok dengan kematian Hariyadi. Setiap selesai menjawab satu pertanyaan, Rewan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Airmata terus mengalir saat Rewan mencoba bercerita soal kematian Hariyadi. Kesedihan Rewan sangatlah dalam. Rewan ditinggalkan Hariyadi disaat ia tengah mengandung 4 bulan.

“Setiap melihat Nova dan mengelus perut saya ini. Kenangan bersama suami saya terus datang. Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya belum…,” ucap Rewan tanpa bisa meneruskan kata-katanya.

Kembali, Rewan mengusap airmatanya. Matanya semakin sembab. Rewan hanya bisa mengumam lirih saat Nova datang dan minta dipangkunya.

Di pangkuannya, Nova asyik memainkan sebuah mainan berbentuk handphone berwarna merah jambu. “Mama, Papa kok nggak pulang-pulang. Nova kangen sama Papa?” tanya Nova pada Rewan tiba-tiba.

Mendengar pertanyann Nova, Rewan tidak sanggup membendung airmatanya. Kata-kata yang Rewan sendiri ingin tidak mendengarnya. Meski itu keluar dari bibir puterinya yang lucu.

“Nova, Papa sedang tugas di tempat yang jauh. Seperti teman-teman Papa lainnya,” kata Rewan sambil mengusap rambut Nova.

“Mama bohong ya? Papa kan sudah meninggal,” ucap Nova sambil tetap memainkan mainannya.

Airmata Rewan semakin deras mengalir. Ibu mertuanya yang duduk disampingnya mencoba menenangkan Rewan. Untuk waktu yang cukup lama, dari bibir Rewan tidak terdengar satu ucapan pun.

Rewan hanya bisa menangis saat ditanya kapan bertemu dengan suaminya untuk pertama kali. Rewan juga tidak bisa bercerita kenangan-kenangan terakhirnya bersama Hariyadi. “Maaf ya.” Hanya itu yang keluar dari bibir Rewan. 

Kepergian Hariyadi untuk selama-lamanya memang tidak disangka-sangka Rewan. Selama Rewan dinikahi Hariyadi pada tahun 2002, ia sudah sering ditinggal tugas.

“Selama suami saya tugas di luar daerah, saya tidak pernah merasa khawatir. Meskipun, ia tugas selama berminggu-minggu maupun berbulan-bulan. Saya yakin suami saya bisa menjaga diri,” ujar Rewan.

Begitu juga saat Hariyadi yang menjadi prajurit Yonif-2 Marinir Cilandak ditugaskan sebagai anggota Satgasmar Rencong Sakti XXVI pada tahun 2004 ke Nanggroe Aceh Darussalam.

Satgasmar Rencong Sakti XXVI adalah salah satu batalyon yang terkena tsunami saat membantu pemulihan keamanan di Bumi Rencong tersebut.

“Saat bencana tsunami terjadi, saya tidak khawatir meski suami saya tugas di sana. Suami saya bisa selamat dari bencana itu. Ada beberapa teman-temannya sesama marinir yang tidak selamat,” terang Rewan.

Saat Hariyadi mengungkapkan bahwa dirinya akan mengikuti latihan perang di Jawa Timur pada tanggal 24 Januari, Rewan bersikap seperti biasanya. Namun, ternyata pemberangkatan latihan diundur.

Hari Rabu, tanggal 23 Januari dia bilang, Kamis jadi mau latihan ma? Kalau nggak jadi pulang ke Citayam ya? Akhirnya Kamis siang balik, pulang ke Citayam. Katanya, berangkatnya baru Jumat tanggal 25 Januari,” jelas Rewan sembari mengusap lelehan airmatanya.

Pada tanggal 25 Januari, Hariyadi berangkat latihan perang. Selama Hariyadi mengikuti latihan perang, Rewan mengaku tidak pernah mendapatkan firasat apa-apa.

Satu hari sebelum kecelakaan, Rewan sempat berkomunikasi dengan Hariyadi. “Dia menyuruh saya untuk mengambil gaji ke Cilandak. Ia juga mengatakan bahwa balik ke Citayamnya tanggal 7 aja,” kata Rewan.

 Rewan tidak tahu bahwa telepon Hariyadi adalah telepon terakhirnya. Terakhir dirinya untuk bisa bersama-sama dengan suaminya tercinta. Rewan tidak mengetahui kalau Hariyadi akan meninggalkan dirinya dan Nova untuk selama-lamanya.

Suara burung gagak yang lewat di atas rumah mereka di Citayam ternyata tanda bahwa Hariyadi, suami yang dicintainya telah pergi untuk selama-lamanya.

 “Gagak itu terbang di atas rumah jam 01.30 pagi. Gagak itu jug abunti dua kali. Awalnya saya tidak menganggap bunyi gagak itu sebagai firasat. Tapi ternyata memang iya,” jelas Rewan lirih.

Minggu (1/2) jam 11.00 WIB, pintu rumah Rewan di Citayem diketuk seorang laki-laki berpakaian marinir. Saat mengintip melalui tirai jendela depan rumahnya, Rewan langsung merasa bahwa telah terjadi hal yang buruk pada suaminya.

“Saya langsung pusing. Saya tahu bahwa orang marinir itu membawa kabar buruk. Begitu ia menjelaskan bahwa suami saya gugur dalam tugas, saya hanya bisa menangis,” terang Rewan.

Sorenya, Rewan kemudian menghubungi ayah Hariyadi, Wagimin yang tengah kerja sebagai penjaga malam di Kompleks Liga Mas, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Bersama dengan kakak keempat Hariyadi, Wahyudi, Rewan dan Nova berangkat ke Surabaya untuk menjemput jenazah suaminya. “Saya sempat mimpi gigi saya copot. Kakak sulungnya juga bermimpi, ia memulangkan ari-ari anaknya yang baru lahir ke Depok,” ucap Wahyudi dengan berlinang airmata. Wahyudi sendiri akhirnya tidak kuat menahan kesedihannya dan memilih untuk masuk ke dalam kamar.

Sementara itu, di tempat lain, istri Kopda Nugroho Pamungkas (34), Arfa Erviana (31) tampak lebih tabah. Meski masih terlihat sedih, Arfa yang ditemui di rumahnya di daerah Karang Timur, Tangerang  tampak tegar.

                Diselingi candaan puteri semata wayangnya, Bella Satria Surya Ananda Putri (6), Arfa mencoba merangkai kata menceritakan kenangannya bersama suami.

“Mas Nugroho itu sangat dekat dengan Bella. Bella masih belum merasakan rasa kehilangan ayahnya. Bella masih gembira karena banyak saudaranya yang ke sini,” ujar Arfa.

Memang, siang itu, Bella asyik bermain-main dengan saudara-saudaranya di ruang tamu yang luas. Hujan yang turun dengan lebat membuat anak-anak kecil ini malas bermain di teras rumah.

Dengan memakai celana panjang dan kaos loreng yang depannya bertuliskan marinir, Bella asyik berkejar-kejaran dengan salah satu saudaranya.

Dikatakan Arfa, dua hari sebelum berangkat untuk latihan perang, Nugroho sempat mengajari Bella naik sepeda. “Karena libur, mas Nugroho memilih untuk mengajari Bella naik sepeda. Dalam dua hari, Bella sudah mahir bersepeda,” ucap Arfa.

Dalam kesehariannya, saat libur, Nugroho memang selalu bersama dengan Bella. Kesibukan Arfa sebagai perawat di Rumah Sakit Husada Insani Tangerang membuat Arfa jarang bertemu Bella.

                Apalagi, Arfa tengah melanjutkan pendidikannya di Politeknik Kesehatan Bandung Program Studi Keperawatan Tangerang. “Kalau saya sibuk, mas Nugroho yang selalu bersama Bella,” kata Arfa.

                Saat Nyata meminta Arfa untuk merepro foto Nugroho, Bella yang tengah bermain langsung berdiri. “Biar Bella ambilkan ya,” kata Bella. Dengan berlari, Bella menuju kamar ayah ibunya untuk mengambil foto almarhum ayahnya.

                “Kalau Bella kangen sama ayah. Bella akan lihat foto ayah,” ucap Bella sambil mendekap foto almarhum ayahnya yang dibingkai sederhana.

                Arfa yang melihat polah tingkah puterinya tak kuasa menahan haru. Sambil mengusap airmatanya, Arfa mengusap rambut Bella yang sudah duduk di kelas I SD Negeri 011 Joglo, Jakarta Barat. “Ya begitu itu Bella. Kalau saudaranya sudah pulang, saya nggak tahu ia akan gimana,” ungkap Arfa pilu.

                Setelah Bella menyerahkan foto, ia kembali bermain-main dengan saudara-saudaranya. Sementara, Arfa meneruskan ceritanya.

                “Bella lebih dekat dengan ayahnya karena ia orangnya sabar. Mas Nugroho lebih sabar daripada saya saat menghadapi anak. Makanya, Bella sayang sama ayahnya,” terang Arfa.

                Menurut Arfa, sebenarnya setelah Nugroho pulang latihan, ia ingin memperbaiki rumah. Menurut Nugroho, rumah yang mereka tempati harus lebih diperindah agar nyaman.

                “Mas Nugroho ingin rumah ini jadi lebih bagus. Tapi ternyata Tuhan memanggilnya lebih dulu. Jadinya saya nanti akan meneruskan keinginannya untuk memperbaiki rumah,” kata Arfa mantap.

                Meski, kini jenazah Nugroho telah tenang di Tempat Pemakaman Keluarga di Tangerang, kenangan indah saat bersama mengarungi rumah tangga masih dikenang Arfa.

                Arfa ingat saat keduanya pertama kali bertemu di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo Jakarta pada tahun 1996 atau satu tahun setelah Nugroho masuk marinir. Saat itu, Arfa sedang praktek di rumah sakit itu. Sedangkan Nugroho sedang menunggui kakak angkatannya yang sedang sakit.

                “Saya kebetulan tugas di ruang tempat kakak angkatannya sakit. Ia begitu manis dan kita langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia yang pertama kali minta berkenalan,” kenang Arfa berkaca-kaca.

                Meski sudah berpacaran, keduanya jarang bertemu. Waktu Nugroho dihabiskan dinas di Ambon saat konflik berkecamuk. Sedangkan, Arfa ditugaskan di RS Usada Insani Tangerang.

“Kita pacarannya lewat telepon. Saat ia bertugas, setiap hari ia selalu menelepon saya. Kalau kebetulan ia pulang, kita bertemu. Ia memang bukan tipe lelaki yang romantis tapi ia sangat sayang pada saya,” ucap Arfa mengenang masa-masa pacarannya.

Setelah 4 tahun berpacaran, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Beberapa hari setelah menikah, Nugroho kembali ditugaskan ke Aceh.

Hanya berselang beberapa minggu, Nugroho kembali ke Aceh untuk membantu memulihkan keamanan akibat konflik RI dengan GAM. Nugroho berada di Aceh selama 1 tahun.

“Memang saya sudah terbiasa ditinggal. Saya maklum karena ia pergi untuk mengabdi kepada Negara. Meski kadang-kadang kangen dan merasa kesepian. Saat sudah ada Bella, sepi ini sedikit terobati,” ungkap Arfa.

Kini, semua tinggalah kenangan. Meski sedih, Arfa mengaku tabah menghadapi cobaan Tuhan yang sangat berat ini. Ia harus membesarkan buah hati mereka sendirian.

Hujan yang turun di luar semakin lebat. Anak-anak kecil masih asyik bermain-main ketika Arfa bercerita awal dirinya diberitahu bahwa suaminya meninggal saat latihan.

“Minggu (3/2) jam 10.00 WIB, saya ditelepon oleh mertua yang tinggal di Surabaya. Saat itu saya tengah membersihkan rumah. Saya langsung histeris dan tak kuat berdiri. Orang rumah, bingung melihat saya,” terang Arfa.

Satu jam setelah diberitahu mertuanya, petugas dari kesatuan suaminya dating ke rumah. Meski masih syok, Arfa menguatkan diri dan hatinya mendengarkan penjelasan komandan marinir tersebut.

“Komandan itu menerangkan bahwa suami saya gugur dalam tugas. Ia jug amenjelaskan pengaturan kepulangan jenazah Mas Nugroho. Saya tidak terlalu mendengarnya karena masih syok,” kata Arfa.

Padahal, Jumat (1/2) sekitar pukul 15.30 WIB, Nugroho masih sempat berkomunikasi dengan dirinya dan Bella melalui telepon. Nugroho menanyakan kabar Bella.

“Bella sempat menanyakan kapan ayah pulang. Dan dijawab bahwa mas Nugroho akan pulang pada tanggal 10 Februari. Ia berpesan agar Bella jangan nakal dan nurut kata mamanya,” jelas Arfa.

Karena sebelumnya Nugroho akan pulang pada tanggal 5 Februari, Arfa mencoba menanyakan sebab diundurnya kepulangannya ke Jakarta. “Menurut suami saya, latihannya diperpanjang. Jadi pulangnya tanggal 10 Februari. Ternyata, malah terjadi kecelakaan,” ucap Arfa.

Selama menjalani latihan perang, Nugroho sudah tiga kali meneleponnya. Yang pertama, saat dirinya sudah berada di Pelabuhan Tanjung Priok. Yang kedua saat dirinya berada di kapal yang akan mengakutnya ke Banyuwangi. “Yang ketiga ternyata yang terakhir adalah satu hari sebelum tragedi itu,” ungkap Arfa.

Seperti halnya Rewan, Arfa juga mengaku sebelum terjadi kecelakaan pada suaminya, ia tidak mendapatkan firasat apa-apa. Ia juga tidak mengalami mimpi yang aneh-aneh.

“Pas berangkat saya sedang dinas malam. Katanya ia akan berangkat pagi-pagi. Tapi saat saya pulang dini hari, ia sudah berangkat. Ia hanya berpesan agar Bella dititipkan ke rumah neneknya. Biar tidak sendirian saat saya dinas malam,” kata Arfa.

Namun yang terjadi adalah, ia dan Bella akan benar-benar sendirian. Arfa juga berjanji akan selalu merawat tanaman yang menjadi kesibukan suaminya saat senggang.

Arfa dan juga Rewan adalah istri-istri yang tabah dan juga istri-istri dari para marinir yang selalu menyerahkan seluruh hidupnya pada Negara ini./// (dipublikasikan di Tabloid Nyata 1911) 

 

Feb
03

Dengan meninggalnya Soeharto, banyak nama yang dulunya pernah berhubungan dekat dengan mantan penguasa Orde Baru itu menjadi buruan wartawan. Salah satu nama yang menjadi target wawancara wartawan adalah Dr Amoroso Katamsi SpKJ. MM.

Amoroso dicari karena pernah sukses memerankan sosok Soeharto dalam film Pengkhianatan G-30-S-P.K.I dan Djakarta 66. Keduanya diproduksi tahun 1982.

Selain wajahnya yang mirip dengan Soeharto, Amoroso menjadi penting karena Pengkhianatan G-30-S-P.K.I ini pada zaman Orde Baru menjadi film wajib putar menjelang Hari Kesaktian Pancasila. Apalagi Amoroso memerankan figur Soeharto sebelum pria yang dijuluki The Smiling General itu menjabat Presiden RI kedua.

Amoroso yang ditemui disela-sela rapat Asean Jambore di Bumi Perkemahan Cibubur, Jawa Barat (2/02), terlihat santai. Mengenakan baju batik dan celana bahan biru, Amoroso yang menjabat Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka ini begitu antusias menceritakan pengalamannya saat memerankan tokoh yang telah menjadi presiden selama puluhan tahun itu.

“Saya bisa memerankan tokoh Pak Harto karena sutradaranya Arifin C Noer. Arifin adalah teman saya bermain teater. Saya dipilih karena waktu itu Arifin sudah cari-cari pemain, tapi nggak ketemu-ketemu,” ungkap Amoroso sambil terkekeh.

Menurut Amoroso, memerankan tokoh yang telah menjadi presiden tidaklah menakutkan. Kecintaannya terhadap teater yang ditekuninya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas membuat Amoroso sangat yakin dengan kemampuan aktingnya. Apalagi Amoroso adalah seorang Angkatan Laut yang saat memerankan Soeharto berpangkat Letnan Kolonel.

“Dukanya nggak ada, sukanya banyak. Suka karena sebagai seorang pemain mendapatkan kesempatan untuk memerankan orang yang sangat terkenal dan tantangan aktingnya banyak, jadi menyenangkan. Saya nggak grogi, karena sudah biasa main film,” jelas Amoroso.

Sebelum film Pengkhianatan G-30-S-PKI, Amoroso sudah bermain di banyak film layar lebar. Semacam film Menanti Kelahiran (1976), Cinta Abadi (1976), Terminal Cinta dan Cinta Putih (1977), Serangan Fajar (1981) dan Perkawinan 83 (1982).

Meski mengaku tidak mengalami kesulitan yang berarti saat memerankan Soeharto, Amoroso mengaku harus banyak melakukan observasi terlebih dahulu.

Sebelum syuting yang memakan waktu 1,5 tahun ini, Amoroso melakukan analisa peran, mencari literatur berupa film, foto, hingga rekaman suara yang berhubungan dengan Soeharto. Lamanya waktu syuting dikarenakan film itu harus melalui banyak perubahan set dan properti.

“Karena ini berlatar belakang sejarah dari orang yang nyata. Mau nggak mau harus persis, ya minimal mendekati lah. Semua bahan itu saya pelajari sampai saya mendapatkan gambaran tentang Pak Harto,” ujar Amoroso yang mempelajari karakter Soeharto selama 3 bulan.

Untuk menambah wawasan tentang karakter Soeharto, Amoroso pun mendapat kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan Soeharto. “Saya bertemu dengan beliau selama satu hari penuh. Saya mengikuti seluruh kegiatannya. Karena waktu itu saya masih tentara, jadi pakai baju tentara, kayak pengawal aja,” ucap Amoroso.

Sambil meminum teh, Amoroso yang pensiun dengan pangkat Laksamana Pertama (purn) meneruskan ceritanya. Cerita tentang kesulitannya memerankan Soeharto.

“Beliau orangnya tidak terlalu ekspresif, jadi sulit menggambarkan bagaimana dirinya tegang, kurang suka, dan sebagainya. Semua itu harus dapat digambarkan tanpa terlihat bergejolak, tapi orang tahu bahwa dia sedang tegang. Nah ini sulit karena permainan dalam, inner-acting,” jelas Amoroso yang juga berstatus sebagai psikiater di Rumah Sakit Puri Cinere, Jakarta Selatan ini.

Khawatir bakal diprotes pak Harto? “Nggak. Cuma karena memerankan Pak Harto yang merupakan presiden ketika itu, jadi lebih cermat dan hati-hati. Khawatir juga, soalnya saya kan masih jadi tentara,” kata Amoroso yang saat ini menjabat Direktur Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap.

Dikatakan Amoroso yang menggeluti dunia film layar lebar sejak tahun 1976, ada beberapa kesamaan saat dirinya memerankan tokoh Soeharto.

“Saya berumur sama dengan Pak Harto dalam film, yaitu 42 tahun. Sama-sama orang Yogya dan sama-sama tentara. Hanya pangkatnya saja yang berbeda. Saya waktu itu Letkol dan beliau sudah Mayjen,” kata Amoroso sambil tertawa..

Satu hal yang sangat membuatnya bangga saat menjadi Soeharto adalah kesempatannya mengunjungi dua istana presiden, Istana Merdeka dan Istana Bogor.

“Sebetulnya menarik sekali juga nggak, tapi yang agak khas adalah saya bisa masuk ke istana, sampai ke mana-mana. Di istana Bogor, bisa ketemu orang-orang yang kerja di situ,” ucap Amoroso yang pernah menjadi ketua PARFI ini.

“Di Bogor masih ada bekas pelayannya Bung Karno dan sebagainya. Jadi mereka bercerita tentang Bung Karno dan Pak Harto. Terus saya ketemu dengan perwira-perwira muda di Kostrad, yang sekian tahun kemudian udah jadi jenderal. Padahal waktu saya syuting masih kapten,” imbuh Amoroso.

Saat menyelami karakter Soeharto, Amoroso memang harus bekerja keras untuk bisa mendekati karakter Soeharto. Hasilnya pun sangat jauh dari kata mengecewakan. Namun, bukan Amoroso kalau langsung cepat puas.

“Kalau saya sebagai pemain nggak pernah merasa puas, tapi senang. Puas itu tempatnya bukan pada seseorang yang memainkan Soeharto. Kalau puas relatif ya,” terang Amoroso.

Amoroso memang belum puas dengan memerankan Soeharto. Lalu, bagaimana dengan Soeharto sendiri maupun keluarga Cendana lainnya? “Kalau Pak Harto, orangnya kan memang tidak terlalu ekspresif ya, tidak pernah memuji. Bu Tien yang bilang, ‘Kamu kok bisa memerankan bapak, padahal tidak terlalu banyak bergaul dengan bapak?’. Ada ucapan Bu Tien yang begitu. Yang lainnya (anak-anak Soeharto, red) nggak ada komen. Paling mbak Tutut, kalau ketemu saya bilang ‘Hei, Pak Harto’.

Memerankan Soeharto membuat Amoroso bisa menyelami karakter Soeharto sebenarnya. Menurutnya, Soeharto sebenarnya adalah seorang yang sangat ramah, sabar dan hangat.

“Keramahannya bukan yang hangat, tapi sejuk dan berwibawa. Karena saya ketemu dia kan sudah tidak muda ya. Kalau masa mudanya saya nggak ngerti, karena waktu itu kan dia sudah jenderal, presiden, jadi kebapakannya itu kuat sekali,”.

“Kendali emosinya kuat sekali, jadi tidak terlalu nampak kalau dia sedang emosi. Kalau dia senyum itu bisa berarti macam-macam. Beliau seorang ahli strategi, mengambil keputusan cepat, dengan pertimbangan yang macam-macam. Dengan pengalamannya dia bisa tegas, konsisten dan konsekuen,” jelas Amoroso.

Berapa kali pernah bertemu Soeharto? “Dalam rangka pembuatan film itu dua kali, sesudah saya menjabat di PFN (Produksi Film Negara, red) pernah ketemu juga dua kali, nggak secara khusus ya. Terus setelah itu ketemu-ketemu lagi di kesempatan yang biasa-biasa saja,” ungkap Amoroso.

Bagi laki-laki kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1940 ini, selain pribadi yang ramah, di matanya sosok Soeharto adalah seorang yang enak untuk diajak bertukar pikiran ataupun sekedar mengobrol.

“Suatu saat saya menghadap beliau, lalu beliau cerita pengalaman masa lalu, perjuangan-perjuangan di Yogya, zaman Operasi Mandala, itu asyik. Sampai terkekeh-kekeh dan lupa waktu. Padahal biasanya kalau menghadap kan nggak boleh lama-lama, tapi itu hampir satu jam saya menghadap beliau, karena lebih banyak mendengarkan cerita. Dan menarik, daya ingatnya luar biasa. Yang kecil-kecil itu dia masih ingat. Ternyata beliau senang bercerita,” cerita Amoroso.

Selain itu, ada satu yang Soeharto lakukan dan membuatnya terkesima. Ternyata saat menerima tamu luar negeri yang sifatnya non formal, Soeharto tidak pernah menggunakan jasa penerjemah.

“Beliau berkomunikasi dengan orang asing yang sifatnya tidak formal dalam bahasa Inggris juga. Padahal sebelumnya kalau ketemu orang asing pasti pakai penerjemah atau baca naskah, tapi ternyata beliau bisa bahasa Inggris juga,” ucap Amoroso.

Merasa penasaran bahwa Soeharto sangat pandai berbahasa Inggris, Amoroso sampai menanyakan hal itu kepada salah satu orang dekat Soeharto.

“Katanya, ‘bapak kalau formal selalu pakai bahasa Indonesia atau penerjemah. Itu karena dia menghargai bahasa Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris beliau itu datangnya belakangan, tidak dari muda. Kalau dia berunding atas nama negara, khawatir akan ada istilah-istilah yang kurang dikuasai nanti akan jadi salah paham. Itu kata orang dekatnya. Tapi saya nggak sempat tanya langsung sama dia,” terang Amoroso.

Masih terus semangat bercerita, Amoroso merubah posisi duduknya. Kakinya yang semula ditekuk, diluruskan. Kakinya yang hanya dialasi sandal kulit bergoyang-goyang.

Lengsernya Soeharto pada medio Mei 1998, turut melengserkan film Pengkhianatan G-30-S-P.K.I. Film yang selalu diputar di stasiun televisi republik Indonesia dan gedung bioskop itu hanya menjadi film kenangan.

“Saya pribadi ingin suatu saat nanti sebagai film bisa diputar lagi, dan bisa dilihat oleh orang dengan mata lebih objektif. Film itu kan soal sejarah,” kata Amoroso.

Namun, Amoroso juga memaklumi kalau pemerintah tidak lagi memutar film tersebut. Karena bagi Amoroso, film yang ia mainkan adalah sebuah film politik.

‘Film ini kan selain bercerita tentang PKI, juga menonjolkan Pak Harto sebagai sosok yang berjasa, jadi bagi orang yang nggak suka beliau tentu nggak suka filmnya. Saya maklum saja, tapi karena saya di pihak yang tahu kejadian sesungguhnya seperti apa, menyesalkan saja kenapa musti begitu. Ini kan sesuatu yang perlu dilihat oleh seluruh bangsa kita. Tapi kalau sekarang dianggap tidak waktunya, ya silakan saja yang punya kekuasaan, saya nggak ikut-ikutan,” ujar Amoroso.

Ayah dari Ratna Arumasari (41), Doddy Keswara Kartikajaya (39), dan Ratna Kusumaningrum (37) ini mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui Soeharto telah menghembuskan nafas terakhirnya dari siaran berita di televisi.

“Saya tidak kaget mendengar beliau meninggal. Saya kan juga dokter, jadi tahu dari tingkat sakitnya. Saya langsung ke RSPP tapi dikabari bahwa jenazah sudah dalam perjalanan ke Cendana. Ya saya ke sana,” ujar Amoroso yang sudah tiga kali menjenguk Soeharto saat sakit ini.

Yang jelas, kata Amoroso, meski dirinya pernah memerankan sosok Soeharto, bukan berarti ia memempunyai hubungan spesial dengan Soeharto maupun keluarganya.

“Akrab sekali sih nggak ya. Cuma sebatas kenal. Kalau ketemu dengan anak-anak beliau ya bertegur sapa. Saya dulu semakin dekat karena Bu Tien adalah pembina Gerakan Pramuka Indonesia,” ucap Amoroso merendah. ///(dipublikasikan di Tabloid Nyata edisi 1910)

Feb
01

Rumah yang dijadikan wartel itu tampak lenggang. Di meja kaca kasir, dua pengunjung sedang menunggu dokumennya difotokopi pekerja wartel.

Di depan sebuah pintu tertutup yang berada di kanan pintu masuk wartel, banyak berserakan sepatu dan sandal. Dari luar terdengar lamat-lamat suara tawa.

Di balik pintu bercat putih itu, ada tangga kayu yang lebarnya hanya setengah meter. Tangga yang dilapisi karpet abu-abu itu sebagai penghubung lantai satu dengan lantai dua.

Seperti halnya tangga itu, lantai di lantai dua juga terbuat dari kayu dan dilapisi karpet abu-abu. Lantai dua ini hanya terdiri dari dua buah kamar, satu kamar mandi dan ruang tamu bebentuk L dengan panjang 5 m dan lebar 3 meter.

Di ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang kerja itu hanya terdapat seperangkat komputer dan sebuah televisi berwarna 21 inch. Di bawah rak televisi, terlihat tumpukan album foto ukuran besar bersampul merah.

Dinding ruang tamu sebelah kanan terpasang foto besar berbingkai emas. Gambarnya, Soeharto berpakaian ihram sedang duduk dan di sebelahnya, jongkok seorang laki-laki.

Keduanya terlihat akrab. Sambil jongkok, tangan kanan laki-laki itu memegang lutut Soeharto. Sedangkan tangan Soeharto tampak memegang tangan itu.

Di dinding yang lain, yang menghadap ke tangga tergantung foto yang sama besarnya. Bingkainya pun berwarna emas. Di foto itu, laki-laki yang sama juga sedang berpose bersama Soeharto. Di dada laki-laki itu tergantung sebuah kamera bermerk Nikon.

Di bawah foto itu, duduk seorang pria paruh baya yang sedang membuka album foto. Wajahnya terlihat sumringah. Sambil melihat foto-foto yang semuanya berhubungan dengan Soeharto itu, bibirnya selalu menyunggingkan senyum.

Setiap melihat foto-foto hasil bidikannya, memori laki-laki itu langsung melayang ke masa-masa kejayaan Soeharto. Masa di mana, kekuatan Soeharto sebagai seorang presiden Indonesia seperti tak terbantahkan.

Saidi, nama laki-laki itu. Hanya Saidi. Cukup singkat tapi perjalanan hidupnya tidaklah sesingkat namanya. Betapa tidak selama 30 tahun, Saidi menjadi fotografer Istana Merdeka Jakarta.

Selama puluhan tahun perjalanan karirnya tersebut, yang paling memberinya kesan adalah pengalamannya mendampingi mantan Presiden Soeharto kala masih menjadi orang nomor satu di negeri ini.

Saat Soeharto menjabat presiden, Saidi terus setia mengabadikan berbagai momen kegiatan baik itu yang sifatnya kenegaraan maupun yang sifatnya pribadi.

40 tahun bukanlah masa yang sebentar. Berbagai kenangan, Saidi rasakan saat bersama Soeharto yang telah meninggal pada Minggu (27/1) lalu ini. Saidi menjadi juru foto Istana sampai Agustus 2007.

Oleh karena itu, seiring dengan meninggal dunianya Soeharto, Saidi banyak dicari pemburu berita. Saidi adalah satu yang tersisa dari fotografer Istana Merdeka sejak jaman Orde Baru.

Di tangan Saidi banyak tersimpan foto-foto Soeharto dalam berbagai pose. Tercatat, Saidi mempunyai 30 album berukuran besar yang berisi kurang lebih 2000 foto.

Foto-foto mulai dari saat Soeharto masih belum menjadi presiden sampai menjadi presiden. Foto-foto berbagai kunjungan kenegaraan ke luar negeri, kunjungan berbagai pemimpin negera ke Indonesia.

Saidi juga mempunyai foto-foto Soeharto saat berdialog dengan para petani, sedang panen padi, atau kunjungan ke daerah. Tak hanya itu, Saidi juga mempunyai foto-foto acara keluarga Cendana, seperti pernikahan Tommy Soeharto dengan Tata, Soeharto saat memancing di laut, ulang tahun cucu-cucu Soeharto atau Soeharto saat nyekar (tabur bunga) ke makam Ibu Tien di Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.

Karena memiliki dan menyimpan foto-foto itulah, beberapa hari ini, rumah Saidi di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara selalu didatangi wartawan baik itu media cetak maupun elektronik.

Seperti pada Rabu (30/1) lalu. Siang itu, Saidi juga tengah diwawancarai salah satu stasiun televisi di lantai dua rumahnya. Lantai dua yang kecil itu penuh sesak kru stasiun televisi tersebut. Satu buah kamera besar, lampu-lampu dengan watt besar, reporter, asisten kameramen juga produser, tumplek blek memenuhi ruang tamu.

Saking penuhnya, dinginnya air conditioner ukuran 0,5 PK tak mampu menyegarkan hawa ruangan. Belum lagi ditambah panasnya cahaya lampu yang dibawa kru stasiun televisi itu.

Meski begitu, Saidi tetap semangat dan terus menebarkan senyumnya. Dengan mantap Saidi bercerita tentang pengalamannya mendampingi Soeharto.

Setelah hampir 2 jam, akhirnya wawancara tersebut selesai dan Saidi pun menemui Nyata yang menunggu di lantai satu. “Maaf ya? Silangkan ke atas ayo kita ngobrol-ngobrol,” ucap Saidi.

Memakai kaos kerah abu-abu dan celana panjang hitam, Saidi terlihat santai. Duduk bersila, Saidi yang memulai pekerjaannya dengan memakai kamera Yashica lensa 2 ini pun mulai menceritakan pengalamannya sepanjang 30 tahun menjadi fotografer Istana Merdeka.

“Yang paling saya ingat dengan Pak Harto itu. Bapak (sebutan Saidi untuk Soeharto, red) adalah selalu bicara dengan bahasa Jawa kalau dengan saya. Tapi saya jawabnya pakai bahasa Indonesia,” terang Saidi memulai obrolan di hari yang mulai menjelang sore itu.

Saidi memang bukan berasal dari Jawa, meski fasih berbahasa Jawa, Saidi berasal dari Medan, Sumatera Utara. Karena sering ngobrol dengan Soeharto, Saidi lambat laun bisa berbahasa Jawa.

Menurut suami dari Hanum ini, karena dirinya masuk menjadi fotografer sejak tahun 1967. Yaitu saat Soeharto dilantik menjadi Pejabat Presiden Indonesia (sebelum dilantik menjadi Presiden Indonesia). Saidi mengaku akrab dengan sosok Soeharto.

Saidi menjadi juru foto Istana Merdeka karena diminta komandannya, Gufran Dwipayana saat masih bertugas di Angkatan Darat. Saat itu, Saidi masih berpangkat kopral. Karir Saidi di militer hanya sampai pangkat Sersan Mayor.

Tahun 1970, Saidi menikahi Hanum. Dari pernikahan itu, mereka dikarunia 4 orang anak dan 10 cucu.

Bentuk keakraban antara penguasa Orde Baru dengan Saidi adalah saat Saidi sakit dan dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Soeharto meluangkan waktu di tengah kesibukan sebagai kepala negara untuk menjenguknya.

Sekitar tahun 1996, Seperti biasanya, Saidi ikut bersama rombongan Soeharto untuk sebuah kunjungan di Bekasi. Jumlah rombongan empat mobil termasuk mobil yang ditumpangi Soeharto.

Saat itu, Saidi bersama rombongan pengawal dan fotografer Istana yang lain. Selesai kunjungan, rombongan kembali ke Istana. Paling depan forider dan pengawal presiden. Setelah itu baru Soeharto, pengawal probadi dan ajudannya. Mobil yang ditumpangi Saidi berada di urutan nomor tiga.

Sesampainya di daerah Kuningan, tiba-tiba mobil yang ditumpangi Saidi dan rombongannya selip dan terguling. Beruntung, semua penumpang selamat. Saidi mengalami patah tulang kaki dan harus dirawat di RSPAD.

“Bapak jenguk saya di rumah sakit. Pihak rumah sakit sampai bingung. Siapa yang sakit sampai presiden menjenguknya. Orang rumah sakit kan tidak tahu saya. Bunga itu sampai penuh. Dari menteri-menteri. Jelek-jelek gini nama Saidi dikenal menteri-menteri,” ungkap Saidi sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Di dalam ruang perawatan, Soeharto sempat bercanda dengan Saidi. Soeharto bergurau soal kaki kiri Saidi yang saat itu masih digips dan digantungi pemberat. Karena luka yang dideritanya, Saidi dirawat selama dua bulan.

“Kata Bapak dengan bahasa Jawa. Di, nek bandule dicopot piye, Di? Begitu katanya sambil tertawa. Gurauan Bapak ini disambut tawa seluruh rombongan Bapak. Saya sih hanya senyum-senyum saja,” kenang Saidi yang suka menggunakan kamera Nikon ini.

Sebagai orang kecil dan hanya bekerja sebagai juru foto Istana Merdeka, Saidi sudah tentu sangat bangga, dirinya dijenguk seorang presiden. “Bangga sekali. Dijenguk presiden. Tidak sembarangan orang bisa dijenguk Bapak. Ini hanya saya, orang kecil,” jelas Saidi sambil tangan kirinya memegang dadanya.

Tak berapa lama, Saidi kembali mengalami kecelakaan. Kali ini, bukan kecelakaan darat melainkan udara. Helikopter yang ditumpangi Saidi saat ikut kunjungan ke Aceh tiba-tiba anjlok.

“Biasanya kalau kunjungan ke luar daerah itu bapak pakai tiga helikopter. Satu bapak, dua cadangan dan ketiga untuk rombongan. Saya di helikopter ketiga. Begitu naik, belum tinggi kira-kira 20 meter. Eh helikopternya nyungsep,” kata Saidi yang pernah diberi penghargaan Satya Lancana 30 tahun ini.

Saidi kembali beruntung, meski helikopternya rusak parah namun seluruh penumpang tidak ada satupun yang meninggal apalagi terluka. Kebanyakan hanya luka ringan dan lecet-lecet.

“Mau keluar aja susah. pintu kan ketutup. Tapi saya bisa keluar. Terus saya motret helikopter itu. Kata Bapak, Di, untung helikopternya ora kobong. Kalau kobong kan mati semua. Kadang begitu itu Bapak. Spontan,” ujar Saidi.

Selain dijenguk di rumah sakit, Saidi juga diajak menunaikan ibadah haji tahun 1992. Saidi bersama Soeharto, Ibu Tien dan anak-anaknya. “Saya sangat bersyukur sekali. Bapak itu suka sekali mengajak saya ngobrol,” kata Saidi sambil menunjukkan foto dirinya bersama Soeharto saat ibadah haji.

Air putih yang disuguhkan tinggal setengah gelas. Di luar rumah, hujan rintik-rintik terlihat membasahi tanah. Saidi kembali bercerita mengenai kunjungan Soeharto ke Bosnia yang tengah dilanda perang, tahun 1994.

Soeharto datang ke Sarajevo untuk menemui pemimpin Bosnia Alija Izetbegovic tanpa mendapat jaminan keamanan dari Nato, PBB maupun Eropa pada tahun 1995.

“Ada surat perjanjiannya bahwa keselamatannya tidak terjamin. Bapak langsung tanda tangan.Di sana masih banyak pertempuran yang terjadi. Bapak tetep nekat. Kita semua pakai baju tahan peluru dan helm. Tapi Bapak nggak pakai,” ucap Saidi.

“Kita saja yang ikut rombongan ngeri. Tapi Bapak tenang-tenang saja. Bagi beliau hidup dan mati itu di tangan Tuhan. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa,” imbuh Saidi.

Di dalam kenangan Saidi, sosok Soeharto adalah sosok seorang yang selalu baik kepada orang kecil. Apalagi terhadap dirinya dan teman-teman juru foto Istana yang lain.

“Kemanapun Bapak pergi saya dibawa. Saya sudah nggak mikir keluarga. Istri dan anak-anak, alhamdulillah mengerti. Resikonya paling kecapekan dan kadang-kadang saya merasa kasihan pada keluarga,” jelas Saidi.

Tak hanya sering diajak pergi ke luar negeri, Saidi juga mengungkapkan bahwa dirinya juga sering mendapatkan uang tip atau uang dinas luar negeri dan luar kota.

“Lumayan jumlahnya. Ini sih sisi lain sukanya menjadi juru foto Istana. Selain diajak ke luar negeri dan bertemu pemimpin negara-negara lain,” jelas Saidi.

Selain menjadi juru foto Istana Merdeka, Saidi juga sering dimintai untuk memotret acara keluarga Soeharto di Jalan Cendana No 8, Jakarta Pusat.

“Saya juga motret acara-acara keluarga macam ulang tahun. Kalau acara-acara yang nggak boleh ya nggak motret. Kalau diminta nggak usah ya saya pulang. Untuk ulang tahun cucunya aja, kadang-kadang 2-3 kali satu bulan. Itu ada aja. Tapi namanya tugas,” kata Saidi.

Meski deket dengan Soeharto dan juga anak-anaknya, Saidi tidak merasa mendapatkan perlakuan khusus. Saidi tetap seperti pekerja Istana yang lainnya. ”Saya tahu diri kok,” ucap Saidi.

Dijelaskan Saidi, diantara semua anak-anak Soeharto yang paling sering diajak ke luar negeri saat kunjungan adalah Siti Hardianti Rukmana atau mbak Tutut. Sedangkan, kalau diajak memancing adalah Bambang Trihatmodjo.

“Semuanya memang seneng mancing. Tapi yang paling sering diajak adalah mas Bambang. Jago mancingnya sama dengan Bapak. Selalu dapat ikan yang besar,” kenang Saidi.

Saat ditanya apakah Tommy Soeharto memang menjadi anak kesayangan Soeharto, Saidi menggeleng. “Tidak ada yang spesial. Bapak itu selalu adil memberi perhatian pada anak-anaknya,” ucap Saidi.

Salah satu momen yang juga tidak akan pernah dilupakan adalah saat Soeharto menghadiri KTT G-15 di Mesir medio Tahun 1998. Sesaat sebelumSoeharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai presiden.

“Waktu banyak demo, Bapak, ajudannya dan juga saya melihatnya dari tayangan CNN. Waktu itu, Bapak terlihat tenang dan masih tertawa-tawa. Namun kunjungannya ke Mesir itu dipersingkat. Bapak segera kembali ke Indonesia,” jelas Saidi.

Begitu juga saat Soeharto terbaring sakit, Saidi pun sempat menjenguknya. Yang terakhir, Saidi mengaku bahwa dirinya sudah tidak bisa berkomunikasi dengan Soeharto.

“Saat saya menjenguknya yang pertama, saat sakit yang pertama dulu di RSPP, beliau masih bisa berbicara. Tapi yang kemarin itu, sudah nggak bisa berkomunikasi,” ujar Saidi.

Sampai dengan Soeharto meninggal dunia pun, Saidi hanya mendengarnya dari siaran televisi. “Saya liat televisi dan langsung ke Cendana. Saya merasa sangat kehilangan,” ungkap Saidi.

“Bapak memang luar biasa. Perhatian pada orang kecil. Sampai sekecil-kecilnya. Seperti harga cabai atau apa. Dia nggak akan tanya menteri, pasti langsung petaninya atau penjualnya,” ucap Saidi.///

(dipblikasikan di Tabloid Nyata edisi 1910)

Jan
17

Spanduk bertuliskan Hutan Pertahanan Akhir Negara yang dibentangkan di tembok rumah penduduk tampak lusuh. Sebuah tanaman rambat menutupi sedikit tulisan itu.

Di atas spanduk itu, tertancap potongan kayu bertuliskan Selamatkan yang Tersisa !!! Sedangkan di bawah spanduk, terbentang sebuah bendera merah putih yang warnanya sudah pendar.

Di samping kiri spanduk, berdiri sebuah green house. Bentuk bangunan ini agak tidak terurus. Dinding yang terbuat dari kain kasa hijau banyak berlobang di sana sini. Plastik polykarbonat yang digunakan untuk atap pun sudah beberapa yang rusak.

Begitu masuk melalui pintu, langsung terlihat sebuah spanduk bertuliskan Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung yang dibentangkan di antara tiang besi penyangga bangunan. Spanduk ini pun sudah tampak lusuh.

Di dalam bangunan itu, keadaannya tampak tidak tertata. Kursi dan meja kayu sederhana diletakkan di tengah lantai tanah. Rak-rak kayu yang ditempel menutupi dinding sebelah kiri dipenuhi kotak-kotak dari kayu yang letaknya tak beraturan.

Di dinding kanan, tertempel peta daerah konservasi Indonesia. Di sampingnya, ditempel foto-foto tanaman lokal Condet yang sudah buram. Di samping kanan pintu, sebuah whiteboard tergantung.

Sederhana dan cenderung apa adanya. Itulah markas Wahana Komunitas Lingkungan Hidup (WKLH). Tapi jangan salah. Meski markasnya biasa saja, namun komunitas ini sangatlah luar biasa.

Komunitas ini tak pernah berhenti untuk melestarikan lahan hijau di wilayah Condet, Jakarta Timur. Lahan hijau yang semakin lama semakin habis digantikan perumahan.

Hanya berbekal semangat baja, komunitas ini mengupayakan bantaran Sungai Ciliwung yang membelah daerah Condet menjadi kawasan hutan kecil. Memang belum semuanya, tapi di beberapa titik sepanjang Sungai Ciliwung, tampak banyak pohon berdiri kokoh.

Yang layak diacungi jempol dari sepak terjang komunitas ini adalah penyelamatannya terhadap Salak Condet (Salacca Zalacca). Salah satu jenis tanaman buah yang hampir punah keberadaannya di daerah Condet.

Padahal dulu, daerah Condet sangatlah terkenal dengan hasil buah-buahan terutama Salak dan juga buah duku (Lancium).

Menurut Abdul Kodir (41), salah satu penggagas WKLH, saat ini hanya tinggal 20 % lahan di daerah Balekambang yang ditanami Salak. Di dua kelurahan yang lain, Kampung Tengah dan Batu Ampar malah hanya tinggal segelintir orang yang mempunyai pohon Salak.

Bersama Elang Bondol, Salak Condet menjadi maskot Jakarta dan TransJakarta. Bahkan, keduanya juga menjadi lambang Jakarta Timur. Patungnya pun tegak berdiri di perbatasan Jakarta Timur – Bekasi.

“Sayangnya, kepunahannya sudah mulai ada. Dan tidak ada upaya konstruktif untuk ke sana, baik itu dari LSM atau pemerintah, semuanya tidak mempedulikannya. Makanya ada kemungkina besar akan punah,” ujar Abdul Kodir saat ditemui di markas WKLH, Balekambang, Condet, Jakarta Timur, Rabu (16/1) lalu.

Yang lebih menyedihkan, kini tidak ada lagi, penjual salak yang menjajakan dagangannya di pinggiran Jalan Raya Condet. “Padahal keistimewaannya banyak macemnya,” ucap Abdul Kodir.

Sambil menghisap rokok kreteknya, ingatan lelaki yang megaku bekerja serabutan ini melayang pada saat dirinya kecil. Waktu di mana, daerah Condet masih asri dan teduh. Pohon-pohon besar tumbuh di mana-mana.

“Condet itu kalau seusia saya sekolah sekitar tahun 80-an sangatlah teduh. Setiap saya pergi sekolah itu kanan kiri ya pohon salak. Kebun semua. Bukan hanya salak aja. Istilahnya tumpang sari ya. Ada pohon duku, pucung, melinjo dan banyak lagi,” kenang Abdul Kodir.

Lelaki asli Condet ini menuturkan, setiap pulang sekolah, ia bersama teman-temannya selelu memetik salak langsung dari pohonnya. Abdul Kodir kecil pun bisa bermain-main di antara pohon duku atau pucung. “Saya bahkan bisa naik akar-akar pohon yang banyak tumbuh di sini,” ucap Abdul Kodir.

Saat siang hari yang terik, ia bersama teman-temannya bisa berenang di Sungai Ciliwung yang masih jernih. Ia bisa puas bermain air tanpa takut gatal-gatal.

“Dulu, airnya sangat jernih. Habis makan salak kita biasanya main air di sungai. Bahkan, sungai ini dulu banyak batunya. Jadi banyak yang mandi dan mencuci,” kata Abdul Kodir.

Namun, kenangan itu tinggalah kenangan. Kondisi Condet dahulu lain dengan Condet sekarang. Banyak lahan yang dulu diperuntukkan untuk kebun berganti dengan rumah-rumah.

“Sekarang kalau saya jalan ke luar rumah, kana kirinya sudah rumah semua. Kebun salak sudah minim. Terlebih lagi, Sungai Ciliwung sudah dipenuhi sampah dan airnya pun sudah cokelat,” kata Abdul Kodir.

“Kalau dibiarin dengan kondisi ini, Condet tak jauh beda dengan kota Jakarta lain. Yang banyak perumahan, banyak pemukiman. Condet mempunyai kekhasan tersendiri, dimana tanamannya agak spesifik. Seperti tanaman buah duku dan salak,” jelas Abdul Kodir yang lahir pada 10 September 1967 ini.

“Sekarang ini tanaman yang asli Condet sudah jarang. Malah hampir tidak ada. Yang ada bukan lokal asli. Kalau tanaman umurnya di atas 50 tahun, kemungkina sifat lokalnya masih ada. Yang sudah tidak ada di Condet adalah duren. Salak menyusul,” jelas Abdul Kodir.

Lahan hijau di daerah Condet hanyalah berada di bantaran Sungai Ciliwung. Itupun hanya tersisa sekitar 20%. “Itu pun sudah terpetak-petak. Ada yang hanya 100 m2 atau 200 m2. Kalau dulu kan hamparan. Tidak ada tembok. Batas rumah hanya tanaman,” jelas Abdul Kodir.

Laki-laki yang mengaku masih bujangan ini merasa miris bahwa di masa datang, anak-anak Condet tidak akan tahu bagaimana rasa Salak Condet atau Duku Condet. “Itu lumayan. Nah, kalau anak-anak tidak tahu bentuk pohon salak. Itu kan parah,” terang Abdul Kodir.

Oleh karena itu, Abdul Kodir dibantu teman-temannya berusaha untuk menyelamatkan Salak Condet. Sekitar tahun 1995, Abdul Kodir mengawali dengan merevitalisasi lahan milik orangtuanya seluas kurang lebih 7000 m2.

“Saya tidak mempunyai alasan prinsip yang khusus. Karena yang saya lakukan ini juga dilakukan oleh teman-teman lain. Saya lahir di sini dan tahu kondisi perkembangan di sini. Karena apa yang rasa dan yang saya alami itu sudah banyak perubahan. Dulu jalan keluar aja takut, masih banyak monyet. Pohonnya masih rindang. Kalau sekarang udah tidak ada,” ujar Abdul Kodir.

Lahan yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung itu, ia sulap menjadi sebuah perkebunan kecil. Lahan itu ia tanami salak, duku, pucung, gandaria, pisang maupun tanaman rambat.

Dengan sedikit pengetahuannya di bidang pertanian, Abdul Kodir berhasil melakukan budidaya 10 dari 15 varietas Salak Condet. Itu ia lakukan dengan bantuan teman-temannya para pemuda asli Condet.

Budidaya itu bisa dilihat di kebunnya, 10 varietas Salak Condet itu sudah mulai berbuah. Dilihat dari kualitas, Salak Condet tidak jauh dari Salak Pondoh.

Karena hanya dilakukan secara swadaya, perjuangan Abdul Kodir bersama teman-temannya banyak menemui kendala. “Saat itu, kami tidak mempunyai tempat untuk pembibitan,” kenang Abdul Kodir.

Sampai suatu ketika, perjuangannya mulai dikenal oleh masyarakat. Abdul Kodir pun mendapatkan hibah dana untuk pembangunan green house sebagai tempat pembibitan.

Tak hanya itu, Dinas Pertanian DKI Jakarta pun memberikan bantuan material untuk usaha pembibitan. “Tapi itu dulu. Sekarang hampir tidak ada. Saya tidak mengerti kenapa,” ujar Abdul Kodir.

Tapi Abdul Kodir terus berjuang. Ia tidak peduli meski tidak ada yang membantunya. Abdul Kodir yakin usahanya melestarikan Salak Condet akan berhasil.

“Kita sistemnya kerja bakti. Setiap minggu melakukan penggarapan di lahan yang berbeda. Sedikit demi sedikit pasti akan berhasil,” terang Abdul Kodir.

Ada yang menentang? “Kayaknya kalau bicara masalah lingkungan itu tidak ada yang nentang. Semuanya teriak peduli. Tapi pada kenyataannya lingkungan tetap aja rusak. Tidak semuanya disertai tindakan,” ucap Abdul Kodir.

Tanah leluhurnya itu kini sudah sangat rimbun. Hampir tidak ada sinar matahari yang menyentuh tanah. Padahal, di luar cuaca sangatlah panas. “Mending kan di sini. Adem, tidak panas seperti di luar,” ungkapnya bangga.

Tak hanya rimbun, di antara pohon-pohon salak itu, banyak beterbangan capung yang juag sudah sulit ditemui di Jakarta. “Kadang-kadang ada burung atau tupai,” kata Abdul Kodir.

Berbagai usaha untuk mengkampanyekan program tanam pohon dilakukannya. Salah satunya dengan membentuk program Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung.

Program ini mengajak anak-anak sekolah untuk lebih mencintai tanaman. Khususnya mencintai tanaman Salak dan Duku Condet. Di lahan milik Abdul Kodir dijadikan semacam outbound training.

Sayangnya, program itu kini tidak terorganisir dengan baik. Sisa-sisa flying fox masih terlihat. Beberapa potongan kayu-kayu persegi panjang yang dulunya dipakai untuk tangga menuju atas pohon masih menempel di batang pohon.

“Kurang dana. Kita masih mengupayakan untuk menjadikan wisata itu hidup lagi. Ini yang sulit, sangat sulit untuk mencari yang peduli. Tapi kita tidak akan menyerah,” ujar Abdul Kodir mantab.

Banjir Besar

Hari menjelang senja, Abdul Kodir masih bercerita. Rokok kretek itu dihisapnya dengan cepat. Keluk asap yang dihembuskannya langsung lenyap ditelan angin.

Ceritanya sampai pada suatu peristiwa yang sempat membuat hatinya terguncang. Sebuah peristiwa yang membuat dirinya menangis. Itu terjadi pada tahun 1996, di mana sebuah banjir besar melanda Jakarta. Condet pun tak luput dari musibah besar itu.

Bantaran Sungai Ciliwung yang melintasi daerah Condet dilibas banjir setinggi dua meter. Hasil jerih payahnya dan juga teman-temannya yang sudah dirintis mereka selama bertahun-tahun terkena imbasnya.

Berbagai tanaman baik buah-buahan maupun perdu yang ditanam Abdul Kodir bersama teman-temannya di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung rusak diterjang banjir.

“Banjir itu sudah menghilangkan jerih payah kami. Habis semua itu. Tanamannya tumbang tertimpa lumpur sama sampah. Hati ini sangat nyesek melihatnya. Semuanya lenyap hanya dalam beberapa menit. Padahal sepanjang bantaran sudah kami tanami sebanyak 60%,” terang Abdul Kodir yang mimiknya berubah sedih.

Masalah banjir, menurut Abdul Kodir memang tidak bisa dipisahkan dari penghijauan yang dilakukannya di bantaran Sungai Ciliwung. Abdul Kodir sendiri mencatat telah tiga kali mengalami musibah ini.

“Tahun 1996, tahun 2002 dan tahun 2007. Tapi tidak ada yang mengalahkan perihnya banjir tahun 1996. di dua tahun itu, tanaman salak sudah tidak sebanyak tahun 1996,” ungkap Abdul Kodir.

Dikatakan Abdul Kodir, selain banjir, ada satu hal yang membuat lahan untuk Salak Condet semakin tersisih adalah perkembangan perumahan.

“Lahan yang ada ini kan kebanyakan punya keluarga. Suatu saat kan ada warisan, jual beli. Itu kan repot. Okelah kita tanam dari sekarang. Taruhlah nanti 5 tahun ke depan kita mau bikin rumah. Karena kita tidak mampu beli. Maka lahan yang ada kita gunakan. Itu gimana?” kata Abdul Kodir.

Perkembangan inilah, yang membuat Abdul Kodir kuatir perjuangannya bersama teman-temannya akan segera usai seperti halnya Salak Condet yang mungkin punah.

“Masih kuatir karena pertambahan penduduk semakin pesat. Istilah nilai ekonomi tanah berbeda. Ini ibukota lho. Pertambahan penduduk dari luar, bahkan masyarakat Condet sendiri beranak-pinak. Itu semua membutuhkan lahan. Membutuhkan tempat tinggal. Tidak menutup kemungkinan lahan itu akan habis,” ujar Abdul Kodir.

Lantas apa yang sebaiknya dilakukan? “Yang pertama ya habitatnya harus diselamatkan dulu. Areal khususnya yang terhindar dari ancaman perumahan dan juga banjir. Harus diprotect khusus tidak bisa diganggu gugat,” ucap Abdul Kodir.

“Saya harap pemerintah punya action. Hanya pemerintah yang bisa. Pemerintah punya program yang konstruktif untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan ini. Ini yang belum ada,” imbuh Abdul Kodir.

Yang lebih membuat Abdul Kodir heran, dari tahun 1974 sejak daerah Condet diresmikan Ali sadikin, gubernur Jakarta waktu itu menjadi sebuah cagar budaya, malah tidak ada penangganan yang khusus soal kelangsungan Salak Condet.

“Lembaga yang menangani lingkungan kan banyak. Organisasi lingkungan banyak. Masak tidak ada yang peduli dengan Salak Condet. Sejak tahun 1974 lho. Aneh kan?” ucapnya penuh keheranan.

Memang perjuangan Abdul Kodir belum selesai. Ia masih mempunyai impian. Sebuah impian tentang kembalinya kejayaan Salak Condet. Mimpi yang mungkin masih panjang, tanpa adanya peran serta pemerintah untuk melestarikannya.

“Saya ingin, kami ingin Condet menjadi daerah seperti saya kecil. Penuh dengan pohon dan juga penghasil salak dan duku. Sebutan Salak Condet bukan hanya sebatas sebutan tapi ada daerah penghasilnya,” kata Abdul Kodir sambil mematikan rokoknya. /// (dipublikasikan di Tabloid Nyata edisi 1908)

Jan
02

Nggak terasa ya? kalender kita musti udah diganti. pdhl kpala msh pusing akibat ulah smalem. suara merdu Maliq d’essential di 4 season berganti dgn mual dan bintang2.
setahun udah kita ngejalani hidup. pasti ada yg seneng, sedih, susah, stres, gembira, penuh darah dan airmata. Byk bgt kejadian yg mbuat kita smakin dewasa. atau nggak malah smakin terpuruk.
di saat kita msh bjuang, ternyata taon udah berganti…dan perjuangan kita smakin menumpuk.
yang jelas di taon 2008 ini, perjuangan musti smakin disemangatkan. terutama sih gw. hidup harus naik ke level selanjutnya. permainan sdh hrs dituntaskan.
jgn hanya berkutat di satu wilayah kesenangan saja. yg susah jg harus dijalani. harus dihadapi. hap..hap..hap…smangat.
stengah tahun smuanya hrs brubah. sdh ada yg mencintai dgn tulus. sdh ada yg menunggu utk disayangi. dan ternyata itu sgt nyaman.
di taon 2008 ini, otak gw hrs dicuci. melangkah dgn kepala diangkat dan badan tegap. mantap menuju kerajaan bahagia.
kerajaan yg sangat dinanti, kerajaan yg dikelilingi cinta. sebuah kurungan yg membahagiakan.

Des
14

Doy      : betah bgt lu di jkt ?

Gw       : he he he he habis wis enak neng kene

Doy      : kapan rabi mu ?

Gw       : blom tahu ni

Doy      : eh no hastuti buka lowongan go sodaranya

Gw       : lowongan opo ?

Doy      : sodarane butuh suami

Gw       : sialan !

Doy      : sing penting S1. soale nang ndesone kono ra ono lanang lulusan S1

Gw       : dancuk !

Doy      : marai isin kawin karo lanang ning pendidikane ngisore. yange lulusan D3 wae di lepek bapake. mbok kowe daftar. biaya gratis kok

Gw       : males gak ono senine !

Doy      : ra butuh seni, butuh bondo !

Gw       : sedulure hastuti kuwi pinter gak, lulusan ngendi ?

Doy      : S1, mbuh univ opo, hastuti ra jelas. tak tawari Roso, Hastuti ra gelem

Gw       : suruh saudaranya hastuti kirim foto seluruh badan, data diri lengkap. nanti saya pertimbangkan

Doy      : terus,..

Gw       : punya FS ga ?

Doy      : walah mon,,.. nang ndesone wae ra ono lanang lulusan S1, samsoyo ra mungkin gagas FS

Gw       : lho cewek itu msh tinggal di desanya. Kerjo gak ?

Doy      : PNS. piye, PNS ndee ?

Gw       : Liat foto dan data diri dulu

Doy      : Kirim pake kartu pos piye ?

Gw       : Anjing ! jaman saiki isih nganggo kartu pos

Doy      : mbuh takok hastuti wae. lah wong deweke nawari aku. po lali yo yen aku wes rabi ?

Gw       : mungkin. ato mungkin dia ingin dipoligami ?

Doy      : coba sek, di reyen sek 

Gw       : ha ha ha ha. Emange motor direyen ?